
SHA-256 (Secure Hash Algorithm 256-bit) merupakan fungsi hash kriptografi yang secara deterministik mengubah data masukan apa pun menjadi keluaran tetap sepanjang 256-bit, yang biasa disebut sebagai hash atau sidik jari digital. Fungsi ini digunakan untuk memverifikasi integritas data, bukan untuk pemulihan data atau enkripsi. Jika data masukan sama, SHA-256 akan selalu menghasilkan keluaran yang identik.
Cara mudah memahaminya adalah dengan mengibaratkan hash sebagai sidik jari digital. Perubahan sekecil satu bit pada data asli akan menghasilkan hash yang benar-benar berbeda. Sensitivitas ini memungkinkan sistem mendeteksi perubahan data secara instan dan menjadi mekanisme kepercayaan utama di lingkungan terdistribusi dan kompetitif seperti blockchain.
SHA-256 menjadi fondasi kepercayaan di Web3 dengan memungkinkan verifikasi konsistensi data secara deterministik dan efisien di jaringan terdesentralisasi. Node dapat memverifikasi blok, transaksi, dan pesan secara mandiri tanpa perantara terpusat.
Dalam blockchain, setiap blok merujuk pada hash blok sebelumnya, membentuk rantai yang terhubung secara kriptografis. Pada sistem Proof of Work, penambang berulang kali menghitung hash SHA-256 untuk memenuhi tingkat kesulitan jaringan. Dompet, node, dan klien mengandalkan perbandingan hash untuk memastikan data yang dikirim tidak diubah, sehingga terwujud koordinasi tanpa kepercayaan di tingkat global.
SHA-256 memproses data masukan melalui serangkaian operasi yang telah diatur dalam standar SHA-2. Algoritma ini menambahkan padding pada data masukan, membaginya menjadi blok berukuran tetap, lalu menjalankan beberapa putaran operasi bitwise, penjumlahan modular, dan fungsi logika untuk menghasilkan keluaran 256-bit tunggal.
Algoritma ini memiliki tiga properti keamanan utama:
SHA-256 didefinisikan dalam NIST FIPS PUB 180-4 (pertama kali diterbitkan pada 2001 dan diperbarui pada 2015). Hingga tahun 2025, belum ditemukan serangan collision praktis terhadap SHA-256, sehingga algoritma ini tetap disetujui untuk aplikasi keamanan tinggi dan keuangan.
Bitcoin menggunakan SHA-256 untuk validasi blok dan keamanan jaringan. Dalam proses mining, peserta secara berulang melakukan hash pada header blok sambil mengubah nonce hingga hash yang dihasilkan secara numerik lebih rendah dari target kesulitan saat ini. Hanya hash yang memenuhi syarat ini yang dianggap valid.
Setiap header blok memuat hash blok sebelumnya, menciptakan sifat tidak dapat diubah melalui keterkaitannya. Transaksi dalam satu blok disusun dalam Merkle tree, di mana hash tiap transaksi digabungkan menjadi satu Merkle root. Merkle root ini disimpan dalam header blok, sehingga memungkinkan verifikasi transaksi yang efisien. Sejak blok genesis Bitcoin pada 2009, SHA-256 menjadi satu-satunya algoritma hashing yang digunakan untuk proses ini.
Pada sistem bergaya Bitcoin, alamat dompet dihasilkan dengan melakukan hash pada public key dan menambahkan checksum untuk deteksi kesalahan. Checksum dibuat menggunakan hashing SHA-256 ganda, dengan empat byte pertama ditambahkan ke payload alamat. Mekanisme ini mendeteksi kesalahan pengetikan dan menurunkan risiko pengiriman dana ke alamat yang salah.
Untuk validasi transaksi, node melakukan hash pada data transaksi dan membandingkan hasil hash-nya. Setiap perubahan pada transaksi akan mengubah hash, sehingga jaringan akan menolak atau menganggapnya sebagai transaksi terpisah. Proses validasi ini sepenuhnya bersifat komputasi tanpa memerlukan perantara tepercaya.
Pada platform terpusat dan API, SHA-256 umumnya digunakan untuk otentikasi permintaan dan pemeriksaan integritas data. Banyak bursa menerapkan HMAC-SHA-256 untuk penandatanganan API, di mana kunci rahasia digabungkan dengan data permintaan untuk menghasilkan tanda tangan yang dapat diverifikasi.
Saat menggunakan API Gate, tanda tangan harus dihasilkan sesuai spesifikasi Gate dengan fungsi hash kriptografi yang tercantum dalam dokumentasi. Sistem backend juga menghitung hash SHA-256 untuk file, catatan deposit, dan pesan untuk mendeteksi perubahan yang tidak diinginkan. Implementasi yang tepat dan penanganan kunci yang aman sangat penting dalam pengelolaan dana pengguna.
Langkah 1: Tentukan data masukan secara jelas, termasuk standar encoding untuk format teks atau biner.
Langkah 2: Pilih alat atau library yang sesuai, seperti sha256sum pada Linux, hashlib di Python, atau modul crypto di Node.js.
Langkah 3: Hitung hash dan simpan hasil heksadesimalnya bersama data asli.
Langkah 4: Lakukan verifikasi dengan meng-hash ulang masukan yang sama dan membandingkan hasilnya.
Langkah 5: Untuk otentikasi, gunakan HMAC-SHA-256 dengan menggabungkan kunci rahasia dan pesan, lalu validasi tanda tangan di sisi server.
SHA-256 adalah bagian dari keluarga SHA-2 dan menawarkan keamanan yang jauh lebih baik dibandingkan SHA-1, yang telah terbukti diretas secara kriptografi. SHA-3, yang berbasis Keccak, menggunakan struktur internal berbeda dan mulai banyak digunakan dalam sistem baru. BLAKE2 dan BLAKE3 menonjolkan kecepatan dan pemrosesan paralel.
| Algoritma | Status Keamanan | Penggunaan Umum |
|---|---|---|
| SHA-1 | Sudah diretas | Hanya sistem lama |
| SHA-256 | Aman | Bitcoin, API, pemeriksaan integritas |
| SHA-3 | Aman | Desain blockchain terbaru |
Pemilihan algoritma harus mempertimbangkan kompatibilitas ekosistem, performa, dan standarisasi.
Kesalahan 1: Menganggap SHA-256 sebagai enkripsi. Hashing tidak menyembunyikan data.
Kesalahan 2: Menggunakan SHA-256 polos untuk penyimpanan kata sandi. Sistem yang aman memerlukan algoritma salting dan stretching seperti PBKDF2 atau Argon2.
Kesalahan 3: Menggunakan SHA-256 mentah untuk otentikasi pesan. HMAC-SHA-256 diperlukan untuk mencegah serangan ekstensi panjang.
Kesalahan 4: Manajemen kunci yang buruk dalam penandatanganan API. Kunci yang bocor atau penanganan parameter yang salah dapat menyebabkan kerugian finansial.
Meskipun komputasi kuantum secara teori dapat menurunkan ketahanan brute-force, implementasi dan manajemen kunci yang benar tetap menjadi perhatian utama keamanan saat ini.
SHA-256 menyediakan sidik jari digital yang deterministik dan mudah dideteksi jika terjadi perubahan, serta menjadi tulang punggung keamanan blockchain. Algoritma ini mendukung mining Bitcoin, pengaitan blok, validasi transaksi, checksum alamat, dan otentikasi API. Penggunaan yang tepat memerlukan pemahaman tentang penerapan hashing, HMAC, atau skema khusus kata sandi. Dengan implementasi yang benar, SHA-256 tetap menjadi primitif kriptografi yang stabil dan tepercaya untuk sistem Web3.
SHA-256 memastikan integritas karena setiap perubahan data akan langsung terdeteksi. Perubahan satu bit saja akan menghasilkan hash yang benar-benar berbeda, sehingga data palsu tidak dapat menyamar sebagai data asli tanpa menghitung ulang seluruh hash terkait, yang secara komputasi mustahil dilakukan di sistem blockchain.
SHA-256 adalah fungsi kompresi satu arah. Informasi asli dibuang secara permanen selama proses hashing, sehingga tidak mungkin untuk mengembalikannya secara matematis. Pemulihan brute-force akan membutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar.
Data transaksi di-hash menggunakan SHA-256 untuk menjamin integritas selama transmisi. Alamat dompet dihasilkan dari public key yang di-hash, memastikan hanya private key yang sesuai yang dapat mengotorisasi pengeluaran dari alamat dompet tersebut.
Ya. SHA-256 tidak dapat dibalik dan digunakan untuk verifikasi, sedangkan enkripsi dapat dibalik dan digunakan untuk menjaga kerahasiaan. Blockchain mengandalkan hashing untuk menjamin imutabilitas, bukan kerahasiaan data.
Skenario ini disebut collision. Walaupun secara teori mungkin terjadi, probabilitasnya sangat kecil—membutuhkan sekitar 2128 upaya. Hingga saat ini belum ditemukan collision praktis pada SHA-256, sehingga algoritma ini tetap dipercaya untuk penggunaan keuangan dan kriptografi.


