Sejak dulu, yang terjebak dalam kontrak biasanya menggunakan leverage rendah, tahu kenapa? Ada sebuah peribahasa yang mengatakan "memasak katak dengan air hangat", karena kamu menggunakan leverage rendah, jadi kamu tidak merasa apa-apa, dan secara perlahan posisi kamu semakin dalam terjebak, lalu semakin banyak modal yang kamu tambahkan ke posisi tersebut, semakin dalam terjebak, semakin banyak modal yang kamu tambahkan, semakin dalam terjebak. Jadi, besar kecilnya leverage dalam kontrak tidak penting, yang penting adalah apakah kamu menerapkan stop loss. Jika kamu tidak menerapkan stop loss, siapa yang akan meledakkan posisi kamu? Kalian setuju bukan?



Meskipun leverage rendah terlihat berisiko kecil, justru karena fluktuasinya yang relatif tenang, mudah membuat orang lengah, seperti memasak katak dengan air hangat, tanpa sadar posisi semakin dalam terjebak. Banyak orang akan terus menambah posisi, hasilnya semakin dalam terjebak, dan akhirnya mengalami kerugian besar.

Masalah utama bukan pada besarnya leverage, tetapi pada apakah kamu secara ketat menjalankan disiplin stop loss. Tidak peduli berapa tinggi leverage-nya, tanpa stop loss seperti mengemudi tanpa sabuk pengaman, begitu menghadapi kondisi ekstrem, sangat mudah tersingkir dari pasar. Stop loss adalah garis pertahanan terpenting untuk melindungi modal, memungkinkan kamu keluar tepat waktu saat salah prediksi, dan menyelamatkan sebagian besar dana.

Dalam trading kontrak, kuncinya adalah memiliki kesadaran manajemen risiko yang ketat, menetapkan level stop loss yang masuk akal dan menegakkan disiplin tersebut, ini adalah dasar untuk bertahan dalam jangka panjang.

Esensi trading dalam rentang harga adalah memprediksi bahwa harga akan berfluktuasi dalam suatu kisaran tertentu, dan mendapatkan keuntungan melalui jual tinggi dan beli rendah. Tetapi begitu pasar keluar dari tren satu arah, baik menembus ke atas maupun ke bawah, strategi order dua arah ini akan menghadapi risiko besar.

Mengapa bisa terjebak mati?

1. Kesalahan dalam menilai arah pasar: posisi long atau short yang salah akan terus merugi, sementara posisi berlawanan mungkin tidak pernah terisi, sehingga tidak bisa melakukan hedging.

2. Jerat menambah posisi: banyak orang terus menambah posisi saat sedang merugi, untuk menurunkan rata-rata biaya, hasilnya semakin dalam terjebak, dan posisi semakin besar.

3. Likuiditas habis: dalam tren satu arah, harga bergerak cepat, bahkan order stop loss pun mungkin tidak sempat terisi, menyebabkan slippage dan kerugian.

4. Tekanan psikologis: melihat kerugian yang terus membesar, mudah timbul perasaan berharap-harap cemas, enggan melakukan stop loss, dan akhirnya mengalami margin call.

Langkah yang benar adalah: jika ingin melakukan trading rentang, harus menetapkan stop loss secara ketat, dan segera keluar saat harga menembus batas rentang, bukan bertahan atau terus menambah posisi. Selain itu, manajemen posisi harus masuk akal, jangan karena leverage rendah lalu melakukan trading dengan posisi besar.
Lihat Asli
post-image
post-image
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • 2
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Anminghaovip
· 01-06 11:08
Terus mencoba, terus belajar,
Lihat AsliBalas0
GateUser-d10f5768vip
· 01-05 05:04
Tahun Baru Kaya Mendadak 🤑
Lihat AsliBalas0
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)