Analoginya seperti celana pendek cargo yang dirancang untuk versatilitas—Bitcoin seharusnya berfungsi di berbagai kondisi pasar. Namun saat ini, pasar kripto sedang menghadapi tantangan untuk menembus hambatan psikologis $90.000, dengan Ether, Solana, dan Cardano turut merosot mengikuti kesulitan Bitcoin membangun momentum. Data terbaru menunjukkan BTC diperdagangkan di level $87,79K dengan penurunan 2,26% dalam 24 jam terakhir, sementara ETH mencapai $2,93K (-3,63%), SOL di $122,75 (-3,99%), dan ADA di $0,35 (-4,68%). Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun pasar saham global mengalami penguatan, aset kripto masih tertinggal jauh, mencerminkan karakteristik volatilitas yang kompleks di balik pergerakan mata uang digital.
Konsolidasi Pasca-Likuidasi: Mengapa Bitcoin Sulit Melanjutkan Penguatan?
Bitcoin mengalami perjuangan yang signifikan untuk mempertahankan momentum di sekitar level $90.000, terutama setelah gelombang likuidasi besar-besaran yang melampaui $1 miliar di awal minggu ini. Saat likuidasi penjualan paksa terjadi, harga sempat turun di bawah $98.000, menciptakan tekanan jual yang masif. Sejak peristiwa tersebut, harga lebih banyak berkonsolidasi daripada melakukan rebound yang kuat. Dalam konteks struktur pasar, kondisi ini mirip dengan strategi berbusana dengan celana pendek cargo—fleksibel namun membutuhkan positioning yang tepat.
Transaksi di pasar Asia pada hari Jumat menunjukkan Bitcoin bergerak sekitar $89,800 dengan perubahan minimal dalam sesi tersebut, tetap tertekan setelah mengalami kesulitan melampaui hambatan teknis yang dimulai minggu lalu. Meskipun pasar saham regional Asia mencapai level tertinggi sepanjang masa dan dolar AS melemah—faktor-faktor yang secara historis mendukung Bitcoin—mata uang kripto terbesar tetap tidak responsif terhadap tailwind makro tersebut.
Pasar Saham Naik, Crypto Tertinggal—Fenomena Divergensi Indeks
Indeks MSCI Asia Pasifik telah mencapai rekor baru, dengan saham pasar berkembang memperpanjang fase penguatan mereka. Futures saham Amerika menunjukkan tren kenaikan yang moderat menjelang pembukaan pasar New York, meskipun dengan magnitude lebih kecil dibanding pergerakan di Asia. Dolar tetap mengalami pelemahan setelah penurunan tajam di awal minggu, fenomena yang secara konvensional seharusnya mendukung komoditas dan Bitcoin. Bahkan emas tetap berada di dekat level $5.000 per ons, menunjukkan kekuatan risk-on sentiment di pasar global.
Namun, tren tersebut tidak sepenuhnya diterjemahkan ke dalam dunia kripto. Mayoritas token dengan kapitalisasi pasar besar tetap mengalami penurunan antara 7% hingga 12% selama minggu lalu—jarak yang signifikan dari pasar tradisional. Fenomena ini mengungkapkan bahwa kripto masih berperilaku sebagai instrumen dengan risiko sistemik tinggi, bukan sebagai aset defensif atau safe haven yang independen dari sentimen pasar global.
Volatilitas Beta Tinggi vs Ekspektasi Aset Defensif
Para pelaku pasar masih memandang cryptocurrency sebagai perpanjangan dari beta tinggi global risk appetite. Ether menurun menuju $2,93K sementara Solana, Cardano, dan XRP mengalami penurunan tipis pada periode yang sama, menurut data CoinGecko. Ketergantungan ini tercermin dalam pengamatan Wenny Cai, Chief Operating Officer di Synfutures:
“Kripto masih diperdagangkan sebagai penguat volatilitas daripada aset defensif. Likuidasi besar-besaran telah membersihkan leverage berlebih, namun ketidakpastian terkait kebijakan, biaya pendanaan, dan regulasi membuat investor lebih selektif daripada agresif,” ujarnya.
Hubungan historis antara dolar yang lebih lemah dan Bitcoin—yang seharusnya bersifat invers—menunjukkan ketidakkonsistenan, terutama ketika investor memilih aset dengan arus kas atau imbal hasil yang lebih jelas. Dengan celana pendek cargo sebagai metafor struktur pasar yang seharusnya versatile namun pada praktiknya terbatas, Bitcoin terjebak dalam pola holding posisi menunggu sinyal yang lebih pasti.
Hambatan Teknis dan Dukungan: Peta Jalan Bitcoin
Data onchain mengungkapkan dinamika menarik tentang distribusi holder Bitcoin. Sekitar 63% dari kekayaan Bitcoin yang diinvestasikan memiliki basis biaya di atas $88.000—level yang sangat dekat dengan harga transaksi saat ini. Ini berarti mayoritas investor berada dalam posisi break-even atau loss, menciptakan pressure untuk cut losses atau hold dengan harapan recovery.
Lebih jauh, sebuah ukuran onchain menunjukkan konsentrasi pasokan yang tinggi antara $85.000 dan $90.000, dikombinasikan dengan dukungan yang relatif tipis di bawah $80.000. Konfigurasi ini menciptakan skenario dua arah: rupiah support akan diuji jika Bitcoin terus tertekan, atau level $90.000 akan bertindak sebagai magnetic resistance yang powerful bagi buyers.
Menunggu Sinyal: Kapan Kripto Akan Bergerak Mandiri?
Untuk saat ini, kripto tampaknya terjebak dalam pola holding position yang spesifik. Seiring dengan mendekatnya sesi perdagangan Amerika, trader akan mengamati apakah kekuatan yang terlihat di pasar saham dan ekonomi negara berkembang akan berhasil menarik Bitcoin naik melalui $90.000, atau apakah cryptocurrency terbesar akan tetap terkunci di bawah level tersebut sementara kepercayaan perlahan dibangun kembali setelah periode yang beragam di awal tahun.
Kepercayaan investor terhadap arah makro masih terbagi-bagi. Para trader menunggu sinyal yang lebih jelas dari pasar saham, kebijakan moneter terbaru, dan kondisi pendanaan derivative sebelum melakukan posisioning yang lebih agresif. Bitcoin berada dalam fase waiting—tidak cukup kuat untuk melampaui hambatan, namun cukup stabil untuk tidak collapse. Seperti struktur celana pendek cargo yang fleksibel, market perlu menemukan positioning yang tepat sebelum momentum sesungguhnya dapat terbangun.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Pakaian Struktural Pasar Crypto: Ketika Celana Pendek Cargo Bitcoin Tak Mampu Naik di Atas $90.000
Analoginya seperti celana pendek cargo yang dirancang untuk versatilitas—Bitcoin seharusnya berfungsi di berbagai kondisi pasar. Namun saat ini, pasar kripto sedang menghadapi tantangan untuk menembus hambatan psikologis $90.000, dengan Ether, Solana, dan Cardano turut merosot mengikuti kesulitan Bitcoin membangun momentum. Data terbaru menunjukkan BTC diperdagangkan di level $87,79K dengan penurunan 2,26% dalam 24 jam terakhir, sementara ETH mencapai $2,93K (-3,63%), SOL di $122,75 (-3,99%), dan ADA di $0,35 (-4,68%). Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun pasar saham global mengalami penguatan, aset kripto masih tertinggal jauh, mencerminkan karakteristik volatilitas yang kompleks di balik pergerakan mata uang digital.
Konsolidasi Pasca-Likuidasi: Mengapa Bitcoin Sulit Melanjutkan Penguatan?
Bitcoin mengalami perjuangan yang signifikan untuk mempertahankan momentum di sekitar level $90.000, terutama setelah gelombang likuidasi besar-besaran yang melampaui $1 miliar di awal minggu ini. Saat likuidasi penjualan paksa terjadi, harga sempat turun di bawah $98.000, menciptakan tekanan jual yang masif. Sejak peristiwa tersebut, harga lebih banyak berkonsolidasi daripada melakukan rebound yang kuat. Dalam konteks struktur pasar, kondisi ini mirip dengan strategi berbusana dengan celana pendek cargo—fleksibel namun membutuhkan positioning yang tepat.
Transaksi di pasar Asia pada hari Jumat menunjukkan Bitcoin bergerak sekitar $89,800 dengan perubahan minimal dalam sesi tersebut, tetap tertekan setelah mengalami kesulitan melampaui hambatan teknis yang dimulai minggu lalu. Meskipun pasar saham regional Asia mencapai level tertinggi sepanjang masa dan dolar AS melemah—faktor-faktor yang secara historis mendukung Bitcoin—mata uang kripto terbesar tetap tidak responsif terhadap tailwind makro tersebut.
Pasar Saham Naik, Crypto Tertinggal—Fenomena Divergensi Indeks
Indeks MSCI Asia Pasifik telah mencapai rekor baru, dengan saham pasar berkembang memperpanjang fase penguatan mereka. Futures saham Amerika menunjukkan tren kenaikan yang moderat menjelang pembukaan pasar New York, meskipun dengan magnitude lebih kecil dibanding pergerakan di Asia. Dolar tetap mengalami pelemahan setelah penurunan tajam di awal minggu, fenomena yang secara konvensional seharusnya mendukung komoditas dan Bitcoin. Bahkan emas tetap berada di dekat level $5.000 per ons, menunjukkan kekuatan risk-on sentiment di pasar global.
Namun, tren tersebut tidak sepenuhnya diterjemahkan ke dalam dunia kripto. Mayoritas token dengan kapitalisasi pasar besar tetap mengalami penurunan antara 7% hingga 12% selama minggu lalu—jarak yang signifikan dari pasar tradisional. Fenomena ini mengungkapkan bahwa kripto masih berperilaku sebagai instrumen dengan risiko sistemik tinggi, bukan sebagai aset defensif atau safe haven yang independen dari sentimen pasar global.
Volatilitas Beta Tinggi vs Ekspektasi Aset Defensif
Para pelaku pasar masih memandang cryptocurrency sebagai perpanjangan dari beta tinggi global risk appetite. Ether menurun menuju $2,93K sementara Solana, Cardano, dan XRP mengalami penurunan tipis pada periode yang sama, menurut data CoinGecko. Ketergantungan ini tercermin dalam pengamatan Wenny Cai, Chief Operating Officer di Synfutures:
“Kripto masih diperdagangkan sebagai penguat volatilitas daripada aset defensif. Likuidasi besar-besaran telah membersihkan leverage berlebih, namun ketidakpastian terkait kebijakan, biaya pendanaan, dan regulasi membuat investor lebih selektif daripada agresif,” ujarnya.
Hubungan historis antara dolar yang lebih lemah dan Bitcoin—yang seharusnya bersifat invers—menunjukkan ketidakkonsistenan, terutama ketika investor memilih aset dengan arus kas atau imbal hasil yang lebih jelas. Dengan celana pendek cargo sebagai metafor struktur pasar yang seharusnya versatile namun pada praktiknya terbatas, Bitcoin terjebak dalam pola holding posisi menunggu sinyal yang lebih pasti.
Hambatan Teknis dan Dukungan: Peta Jalan Bitcoin
Data onchain mengungkapkan dinamika menarik tentang distribusi holder Bitcoin. Sekitar 63% dari kekayaan Bitcoin yang diinvestasikan memiliki basis biaya di atas $88.000—level yang sangat dekat dengan harga transaksi saat ini. Ini berarti mayoritas investor berada dalam posisi break-even atau loss, menciptakan pressure untuk cut losses atau hold dengan harapan recovery.
Lebih jauh, sebuah ukuran onchain menunjukkan konsentrasi pasokan yang tinggi antara $85.000 dan $90.000, dikombinasikan dengan dukungan yang relatif tipis di bawah $80.000. Konfigurasi ini menciptakan skenario dua arah: rupiah support akan diuji jika Bitcoin terus tertekan, atau level $90.000 akan bertindak sebagai magnetic resistance yang powerful bagi buyers.
Menunggu Sinyal: Kapan Kripto Akan Bergerak Mandiri?
Untuk saat ini, kripto tampaknya terjebak dalam pola holding position yang spesifik. Seiring dengan mendekatnya sesi perdagangan Amerika, trader akan mengamati apakah kekuatan yang terlihat di pasar saham dan ekonomi negara berkembang akan berhasil menarik Bitcoin naik melalui $90.000, atau apakah cryptocurrency terbesar akan tetap terkunci di bawah level tersebut sementara kepercayaan perlahan dibangun kembali setelah periode yang beragam di awal tahun.
Kepercayaan investor terhadap arah makro masih terbagi-bagi. Para trader menunggu sinyal yang lebih jelas dari pasar saham, kebijakan moneter terbaru, dan kondisi pendanaan derivative sebelum melakukan posisioning yang lebih agresif. Bitcoin berada dalam fase waiting—tidak cukup kuat untuk melampaui hambatan, namun cukup stabil untuk tidak collapse. Seperti struktur celana pendek cargo yang fleksibel, market perlu menemukan positioning yang tepat sebelum momentum sesungguhnya dapat terbangun.