Komunitas DeFi sedang menghadapi momen penting setelah penundaan signifikan dalam proses legislasi pasar kripto AS. Pertanyaan mendesak yang muncul adalah: apa arti jeda ini bagi masa depan industri keuangan terdesentralisasi? Jawabannya ternyata lebih nuansa dari sekadar berita buruk bagi para pemain kripto.
Peristiwa yang Memicu Krisis Legislasi
Minggu lalu, rencana untuk menetapkan kerangka kerja pasar kripto AS yang komprehensif mengalami gangguan serius ketika Coinbase tiba-tiba menarik dukungannya terhadap RUU yang sedang dibahas. Beberapa jam kemudian, para pembuat undang-undang di Senate Banking Committee membatalkan sidang markup yang dapat memajukan proposal tersebut. Peristiwa cascading ini membuat momentum legislasi berhenti total.
Meskipun terlihat seperti kekalahan bagi industri, persepsi ini terbukti keliru. Para pemimpin DeFi dan analis industri justru melihat jeda ini sebagai sinyal negosiasi strategis daripada kegagalan final.
DeFi Melihat Penundaan sebagai Kesempatan Emas, Bukan Kekalahan
Mike Silagadze, pendiri Ether.fi, merupakan salah satu suara paling optimis menanggapi apa arti jeda RUU ini. Ia menyatakan bahwa versi RUU saat ini akan membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat bagi ekosistem DeFi. “Saya tidak terlalu khawatir — saya justru melihatnya sebagai positif, karena RUU dalam bentuk sekarang sangat merugikan crypto,” ujarnya kepada CoinDesk.
Silagadze menjelaskan bahwa proposal terdahulu mengandung ketentuan yang akan membatasi hasil kepemilikan stablecoin dan menerapkan restriksi ketat pada protokol DeFi. Namun demikian, dia tetap berspekulasi bahwa “versi yang lebih seimbang akhirnya akan kembali ke meja perundingan.”
Apa Arti Penundaan Ini dalam Konteks Negosiasi Kekuatan
Bill Hughes, penasihat senior dan direktur urusan regulasi global di Consensys, memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang dinamika di balik layar. Menurutnya, jeda ini bukanlah indikasi kegagalan, melainkan simbol bahwa legislator dan advokat industri lebih rela mundur daripada menerima pengawasan yang berlebihan terhadap teknologi terdesentralisasi.
“Mereka yang mendesak pengawasan pemerintah yang lebih ketat membutuhkan RUU ini lebih dari pada DeFi, setidaknya dalam jangka pendek,” kata Hughes. Dia menekankan bahwa penundaan ini mengingatkan para senator tentang apa yang akan hilang jika mereka tidak mencapai kesepakatan.
Perspektif ini mengisyaratkan bahwa dalam iterasi legislasi berikutnya, para pendorong pengawasan yang lebih ketat akan “berkurang keinginannya untuk menuntut hal-hal yang memaksa industri mundur.”
Dinamika Kekuatan Bergeser Favoring Industri
Brad Garlinghouse, CEO Ripple, juga menyukai interpretasi ini. Keputusan Coinbase untuk menaruh ulang dukungannya menunjukkan bahwa bahkan bursa terbesar di Amerika Serikat bersedia meninggalkan legislasi yang dianggap mengancam inovasi. Terlihat bahwa Armstrong, pimpinan Coinbase, hadir di House of Representatives pada hari Kamis setelah pengumuman penarikan dukungan, menunjukkan langkah Coinbase bersifat sementara dan menunggu draft ulang RUU.
Senator Tim Scott, ketua komite dan Republikan dari South Carolina, mengumumkan dalam pernyataannya bahwa ia tetap “berbicara dengan para pemimpin industri kripto, sektor keuangan, dan rekan legislator dari kedua belah pihak, dan semua pihak masih aktif di meja perundingan dengan itikad baik.”
Hughes dari Consensys menggarisbawahi bahwa meskipun draft RUU masih jauh dari sempurna, industri kripto masih memiliki daya tawar substansial dalam membentuk hasil final. “Sponsor legislasi dan industri akan meninggalkan struktural pasar daripada menerima regulasi berlebihan atas teknologi terdesentralisasi,” katanya, menambahkan bahwa jeda ini mengirimkan pesan kuat bahwa “mereka membutuhkan undang-undang ini lebih dari industri kami.”
Dinamika ini membuka pintu untuk revisi proposal yang lebih seimbang dan kemungkinan Coinbase serta pemain utama lainnya kembali mendukung legislasi yang lebih moderat.
Pasar Kripto Tetap Dalam Tekanan Meski Ada Optimisme Legislatif
Sementara lanskap regulasi sedang bergerak, performa pasar kripto menunjukkan tekanan berkelanjutan. Bitcoin terbaru diperdagangkan di sekitar $87.99K dengan penurunan 2.40% dalam 24 jam terakhir, setelah Federal Reserve mempertahankan tingkat suku bunga pada level yang sama. Momen ini menunjukkan bahwa meskipun ada perkembangan positif legislatif, sentimen pasar masih dibebani oleh faktor makroekonomi yang lebih luas.
Ethereum mengalami penurunan 3.21% ke $2.93K, sementara Solana turun 3.26% menjadi $122.80. BNB merosot 1.69% ke $889.20, dan Dogecoin jatuh 3.86% mencapai $0.12. Pergerakan negatif lintas aset ini mencerminkan bahwa bitcoin dan altcoin masih bertindak seperti aset berisiko tinggi daripada hedging makro yang konvensional.
Analis mencatat bahwa bitcoin terjebak dalam konsolidasi bearish, berada sekitar 30 persen di bawah puncak Oktober dan berjuang menembus resistensi kunci di dekat $89.000. Pemulihan tajam pada dolar AS dan kekuatan berkelanjutan pada logam mulia seperti emas, yang mencapai rekor tertinggi, terus menekan pasar kripto.
Kesimpulan: Apa Arti Jeda dalam Perspektif Jangka Panjang
Apa arti jeda RUU kripto sebenarnya adalah peluang untuk rekalibrasi. Bukan kekalahan tetapi periode negosiasi ulang di mana kedua belah pihak mengevaluasi posisi mereka. DeFi mendapatkan waktu untuk mempengaruhi proses legislatif dengan cara yang lebih menguntungkan, sementara pendukung regulasi menyadari bahwa mereka membutuhkan kompromi untuk mencapai kesepakatan.
Dalam jangka pendek, pasar kripto tetap menghadapi headwind dari kondisi makroekonomi. Namun dari perspektif regulasi, sektor DeFi dapat melihat penundaan ini sebagai kesempatan strategis untuk membentuk undang-undang yang lebih seimbang — bukannya merupakan kemenangan atau kekalahan, melainkan pivot menuju negosiasi yang lebih adil.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Apa Arti Jeda RUU Kripto untuk DeFi: Peluang atau Potensi Risiko?
Komunitas DeFi sedang menghadapi momen penting setelah penundaan signifikan dalam proses legislasi pasar kripto AS. Pertanyaan mendesak yang muncul adalah: apa arti jeda ini bagi masa depan industri keuangan terdesentralisasi? Jawabannya ternyata lebih nuansa dari sekadar berita buruk bagi para pemain kripto.
Peristiwa yang Memicu Krisis Legislasi
Minggu lalu, rencana untuk menetapkan kerangka kerja pasar kripto AS yang komprehensif mengalami gangguan serius ketika Coinbase tiba-tiba menarik dukungannya terhadap RUU yang sedang dibahas. Beberapa jam kemudian, para pembuat undang-undang di Senate Banking Committee membatalkan sidang markup yang dapat memajukan proposal tersebut. Peristiwa cascading ini membuat momentum legislasi berhenti total.
Meskipun terlihat seperti kekalahan bagi industri, persepsi ini terbukti keliru. Para pemimpin DeFi dan analis industri justru melihat jeda ini sebagai sinyal negosiasi strategis daripada kegagalan final.
DeFi Melihat Penundaan sebagai Kesempatan Emas, Bukan Kekalahan
Mike Silagadze, pendiri Ether.fi, merupakan salah satu suara paling optimis menanggapi apa arti jeda RUU ini. Ia menyatakan bahwa versi RUU saat ini akan membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat bagi ekosistem DeFi. “Saya tidak terlalu khawatir — saya justru melihatnya sebagai positif, karena RUU dalam bentuk sekarang sangat merugikan crypto,” ujarnya kepada CoinDesk.
Silagadze menjelaskan bahwa proposal terdahulu mengandung ketentuan yang akan membatasi hasil kepemilikan stablecoin dan menerapkan restriksi ketat pada protokol DeFi. Namun demikian, dia tetap berspekulasi bahwa “versi yang lebih seimbang akhirnya akan kembali ke meja perundingan.”
Apa Arti Penundaan Ini dalam Konteks Negosiasi Kekuatan
Bill Hughes, penasihat senior dan direktur urusan regulasi global di Consensys, memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang dinamika di balik layar. Menurutnya, jeda ini bukanlah indikasi kegagalan, melainkan simbol bahwa legislator dan advokat industri lebih rela mundur daripada menerima pengawasan yang berlebihan terhadap teknologi terdesentralisasi.
“Mereka yang mendesak pengawasan pemerintah yang lebih ketat membutuhkan RUU ini lebih dari pada DeFi, setidaknya dalam jangka pendek,” kata Hughes. Dia menekankan bahwa penundaan ini mengingatkan para senator tentang apa yang akan hilang jika mereka tidak mencapai kesepakatan.
Perspektif ini mengisyaratkan bahwa dalam iterasi legislasi berikutnya, para pendorong pengawasan yang lebih ketat akan “berkurang keinginannya untuk menuntut hal-hal yang memaksa industri mundur.”
Dinamika Kekuatan Bergeser Favoring Industri
Brad Garlinghouse, CEO Ripple, juga menyukai interpretasi ini. Keputusan Coinbase untuk menaruh ulang dukungannya menunjukkan bahwa bahkan bursa terbesar di Amerika Serikat bersedia meninggalkan legislasi yang dianggap mengancam inovasi. Terlihat bahwa Armstrong, pimpinan Coinbase, hadir di House of Representatives pada hari Kamis setelah pengumuman penarikan dukungan, menunjukkan langkah Coinbase bersifat sementara dan menunggu draft ulang RUU.
Senator Tim Scott, ketua komite dan Republikan dari South Carolina, mengumumkan dalam pernyataannya bahwa ia tetap “berbicara dengan para pemimpin industri kripto, sektor keuangan, dan rekan legislator dari kedua belah pihak, dan semua pihak masih aktif di meja perundingan dengan itikad baik.”
Hughes dari Consensys menggarisbawahi bahwa meskipun draft RUU masih jauh dari sempurna, industri kripto masih memiliki daya tawar substansial dalam membentuk hasil final. “Sponsor legislasi dan industri akan meninggalkan struktural pasar daripada menerima regulasi berlebihan atas teknologi terdesentralisasi,” katanya, menambahkan bahwa jeda ini mengirimkan pesan kuat bahwa “mereka membutuhkan undang-undang ini lebih dari industri kami.”
Dinamika ini membuka pintu untuk revisi proposal yang lebih seimbang dan kemungkinan Coinbase serta pemain utama lainnya kembali mendukung legislasi yang lebih moderat.
Pasar Kripto Tetap Dalam Tekanan Meski Ada Optimisme Legislatif
Sementara lanskap regulasi sedang bergerak, performa pasar kripto menunjukkan tekanan berkelanjutan. Bitcoin terbaru diperdagangkan di sekitar $87.99K dengan penurunan 2.40% dalam 24 jam terakhir, setelah Federal Reserve mempertahankan tingkat suku bunga pada level yang sama. Momen ini menunjukkan bahwa meskipun ada perkembangan positif legislatif, sentimen pasar masih dibebani oleh faktor makroekonomi yang lebih luas.
Ethereum mengalami penurunan 3.21% ke $2.93K, sementara Solana turun 3.26% menjadi $122.80. BNB merosot 1.69% ke $889.20, dan Dogecoin jatuh 3.86% mencapai $0.12. Pergerakan negatif lintas aset ini mencerminkan bahwa bitcoin dan altcoin masih bertindak seperti aset berisiko tinggi daripada hedging makro yang konvensional.
Analis mencatat bahwa bitcoin terjebak dalam konsolidasi bearish, berada sekitar 30 persen di bawah puncak Oktober dan berjuang menembus resistensi kunci di dekat $89.000. Pemulihan tajam pada dolar AS dan kekuatan berkelanjutan pada logam mulia seperti emas, yang mencapai rekor tertinggi, terus menekan pasar kripto.
Kesimpulan: Apa Arti Jeda dalam Perspektif Jangka Panjang
Apa arti jeda RUU kripto sebenarnya adalah peluang untuk rekalibrasi. Bukan kekalahan tetapi periode negosiasi ulang di mana kedua belah pihak mengevaluasi posisi mereka. DeFi mendapatkan waktu untuk mempengaruhi proses legislatif dengan cara yang lebih menguntungkan, sementara pendukung regulasi menyadari bahwa mereka membutuhkan kompromi untuk mencapai kesepakatan.
Dalam jangka pendek, pasar kripto tetap menghadapi headwind dari kondisi makroekonomi. Namun dari perspektif regulasi, sektor DeFi dapat melihat penundaan ini sebagai kesempatan strategis untuk membentuk undang-undang yang lebih seimbang — bukannya merupakan kemenangan atau kekalahan, melainkan pivot menuju negosiasi yang lebih adil.