Infrastruktur pasar modal global saat ini masih beroperasi berdasarkan model yang berusia hampir seabad: penetapan harga melalui mekanisme akses terpusat, penyelesaian dalam batch berkala, dan kolateral yang terikat dalam siklus penyelesaian panjang. Model ini kini menghadapi titik perubahan fundamental. Dengan percepatan tokenisasi dan pengurangan waktu penyelesaian dari hari menjadi detik, strategi algoritmik dalam pasar yang beroperasi 24/7 tidak lagi menjadi konsep teoretis melainkan kebutuhan operasional nyata di tahun 2026.
Perubahan ini menandai transisi dari perdagangan terjadwal menuju perdagangan berkelanjutan, dari penyelesaian batch menuju settlement real-time, dan dari manajemen agunan manual menuju alokasi kolateral otomatis dan responsif. Bagi institusi finansial, momentum ini memerlukan adaptasi radikal dalam strategi eksekusi dan manajemen risiko.
Tokenisasi Mendorong Perubahan Mendasar pada Infrastruktur Pasar
Tokenisasi bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi reorganisasi fundamental dari cara aset diperdagangkan dan diselesaikan. Ketika kepemilikan aset dicatat dalam blockchain dan penyelesaian terjadi dalam hitungan detik, hambatan tradisional yang mengunci modal selama berthari-hari akan hilang.
Saat ini, institusi keuangan dipaksa memposisikan aset berhari-hari sebelumnya untuk mengantisipasi kebutuhan dana. Memasuki kelas aset baru memerlukan proses onboarding kompleks, penempatan jaminan, dan periode tunggu minimal lima hingga tujuh hari. Persyaratan penyelesaian T+2 dan T+1 menciptakan kelelahan modal yang signifikan di seluruh ekosistem finansial.
Tokenisasi menghilangkan hambatan-hambatan ini secara simultan. Ketika kolateral menjadi fungibel sepenuhnya dan penyelesaian terjadi dalam detik, institusi dapat melakukan realokasi portofolio secara terus-menerus. Saham, obligasi, aset digital, dan instrumen keuangan lainnya menjadi komponen yang dapat dipertukarkan dalam satu strategi alokasi modal yang selalu aktif.
Para analis pasar memperkirakan bahwa pada tahun 2033, pertumbuhan aset yang ditokenisasi akan mencapai $18,9 triliun, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 53%. Proyeksi ini dianggap moderat ketika mempertimbangkan tren panjang mengurangi friksi pasar sejak era perdagangan elektronik hingga eksekusi algoritmik. Lebih ambisius lagi, beberapa pemangku kepentingan memperkirakan hingga 80% dari seluruh aset dunia akan ditokenisasi pada tahun 2040, mengikuti kurva adopsi S yang eksponensial seperti telepon seluler atau perjalanan udara.
Jalur Regulasi dan Adopsi Global Memperkuat Transisi
Momentum tokenisasi diperkuat oleh sinyal positif dari badan regulasi utama dan ekspansi adopsi di berbagai yurisdiksi. Persetujuan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) kepada Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC) untuk mengembangkan program tokenisasi sekuritas menunjukkan bahwa regulator besar mengakui inevitabilitas transisi ini.
Program DTCC yang akan mencatat kepemilikan saham, ETF, dan surat utang di blockchain merepresentasikan integrasi formal antara ekosistem keuangan tradisional dan infrastruktur blockchain. Kepastian regulasi lebih lanjut tetap kritis, namun langkah SEC ini memberikan jalur yang jelas bagi institusi untuk membangun kapasitas operasional tanpa menunggu kerangka kerja lengkap.
Secara global, Korea Selatan baru-baru ini mencabut larangan selama sembilan tahun terhadap investasi korporat dalam aset kripto, memungkinkan perusahaan publik memegang hingga 5% dari modal ekuitas mereka dalam token utama seperti Bitcoin dan Ethereum. Keputusan ini mencerminkan pergeseran persepsi terhadap aset digital sebagai instrumen investasi yang sah untuk portofolio institusional.
Di sektor perdagangan, Interactive Brokers, pemimpin industri dalam perdagangan elektronik, telah meluncurkan fitur yang memungkinkan klien untuk menyetorkan stablecoin USDC dan RLUSD (milik Ripple) serta PYUSD (milik PayPal) untuk pendanaan akun real-time, 24/7. Integrasi ini menunjukkan bagaimana stablecoin berkembang menjadi saluran penyelesaian yang fungsional dan lancar di seluruh kelas aset.
Eksekusi Algoritmik dan Manajemen Likuiditas Real-Time
Transisi menuju pasar 24/7 menciptakan peluang dan tantangan unik bagi strategi algoritmik. Di pasar yang beroperasi berkelanjutan, algoritma must-berevolusi dari model eksekusi periodik menuju manajemen likuiditas yang adaptif dan responsif real-time.
Dalam lingkungan penyelesaian instant, manfaat kompetitif akan jatuh kepada institusi yang dapat mengelola kolateral secara dinamis, melakukan monitoring AML/KYC dalam waktu nyata, mengintegrasikan kustodi digital, dan menggunakan stablecoin sebagai jalur settlement yang seamless. Strategi algoritmik tradisional yang dioptimalkan untuk sesi perdagangan diskrit akan menjadi obsolete.
Efisiensi modal mencapai dimensi baru ketika agunan tidak lagi terperangkap dalam siklus penyelesaian berbasis batch. Modal yang sebelumnya terikat dalam holding persyaratan akan terbuka untuk realokasi cepat. Stablecoin dan dana pasar uang yang ditokenisasi menjadi “hub” penghubung antara kelas aset yang sebelumnya terpisah, memungkinkan perpindahan instan antar pasar dan meningkatkan kedalaman buku pesanan.
Efek berantai terhadap likuiditas pasar akan signifikan: volume perdagangan meningkat, kecepatan perputaran modal akselerasi, dan risiko penyelesaian menurun drastis. Dalam ekosistem ini, algoritma yang dapat mengoptimalkan alokasi sumber daya lintas aset dan pasar akan menangkap peluang yang tidak dapat diakses oleh pemain yang tetap terikat pada infrastruktur legacy.
Tantangan Distribusi dan Kualitas Aset dalam Paradigma Baru
Meskipun infrastruktur teknis dan regulasi menunjukkan kemajuan, tantangan terbesar dalam adopsi aset digital tetap pada penetrasi distribusi yang bermakna. Kripto masih didominasi oleh trader self-directed; penerimaan institusional belum tercermin dalam adopsi masif di segmen ritel, mass affluent, wealth, dan institusional.
Produk keuangan harus dijual untuk dapat digunakan. Hingga aset digital dapat diakses melalui saluran distribusi yang sama dengan kelas aset tradisional—melalui penasihat finansial, platform kekayaan, dan system bank retail—adopsi institusional tidak akan menerjemahkan diri menjadi kinerja pasar yang berkelanjutan.
Data kinerja dari tahun lalu menunjukkan bahwa aset digital dengan kualitas tertinggi terus mendominasi. CoinDesk 20—yang mencakup mata uang digital, platform smart contract, protokol DeFi, dan infrastruktur utama—menunjukkan outperformance signifikan terhadap CoinDesk 80. Diversifikasi yang bermakna dapat dicapai dalam subset aset berkualitas tinggi tanpa menambah beban kognitif pada investor ritel atau institusional.
Poin penting lainnya adalah resolusi lanskap regulasi. RUU CLARITY menghadapi hambatan signifikan—terutama kontroversi seputar insentif stablecoin yang mempertemukan bank tradisional dengan penerbit non-bank. Kompromi yang strategis dan pemahaman bersama diperlukan untuk memajukan legislasi kritis ini.
Bitcoin dan Ethereum: Sinyal Harga Terbaru di Pasar Volatil
Performa Bitcoin dan Ethereum pada paruh terakhir Januari 2026 mencerminkan volatilitas yang melekat dalam fase transisi pasar. Bitcoin saat ini diperdagangkan pada $84.87K dengan penurunan 24 jam sebesar 5,09%, sementara Ethereum berada di posisi $2.82K dengan penurunan 6,08% dalam periode yang sama.
Menariknya, korelasi 30 hari Bitcoin terhadap emas telah berbalik positif untuk pertama kalinya tahun ini, mencapai 0,40, seiring emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Pergeseran ini menandakan kemungkinan repositioning dari aset safe-haven tradisional. Pertanyaan penting bagi observer pasar adalah apakah tren kenaikan emas yang berkelanjutan akan memberikan momentum jangka menengah kepada Bitcoin, ataukah kelemahan harga BTC yang persisten akan mengonfirmasi pemisahan dari dynamic aset safe-haven.
Secara teknis, Bitcoin masih berada di posisi berat, gagal merebut kembali rata-rata bergerak eksponensial 50 minggu setelah penurunan minggu lalu. Tren ini memerlukan monitoring ketat untuk mengidentifikasi sinyal pembalikan atau penguatan lebih lanjut.
Tahun Kedua Adopsi Institusional: Membangun Kapasitas Operasional
Jika tahun 2025 mewakili tahun pertama pendaftaran kripto dalam institusi kapitalisme tingkat tinggi, maka 2026 adalah tahun kedua—tahun untuk membangun, berkembang, dan mengkhususkan diri. Energi pasar pasca-Hari Pemilihan November 2024 yang membawa reli dahsyat telah memberi jalan kepada realitas operasional.
Fase pertama 2025 ditandai kegembiraan: Bitcoin mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada Hari Pelantikan. Namun seperti mahasiswa baru yang penuh semangat, kripto dengan cepat menghadapi pelajaran pertama. Tantrum tariff dan efek sisa membuat Bitcoin jatuh di bawah $80K dan Ethereum mendekati $1.500. Momentum pulih di kuartal kedua, tetapi kuartal keempat menghadirkan volatilitas punishing dengan peristiwa auto-deleveraging yang menghancurkan kepercayaan.
Untuk menghindari “sophomore slump” (penurunan performa tahun kedua), kripto harus mengatasi tiga tantangan utama: (1) memajukan legislasi kritis seperti RUU CLARITY melalui kompromi strategis; (2) membangun saluran distribusi yang bermakna di luar trader self-directed; dan (3) mempertahankan fokus pada aset digital berkualitas tertinggi yang menyediakan diversifikasi tanpa beban kognitif.
Infrastruktur Matang dan Momentum Ekosistem
Infrastruktur yang diperlukan untuk pasar 24/7 semakin matang. Kustodian yang teratur dan solusi perantara kredit telah berkembang dari tahap proof-of-concept menuju produksi komersial. Protokol DeFi terus berinovasi dalam efisiensi modal dan manajemen risiko. Ekosistem NFT berkembang melampaui spekulasi, dengan proyek seperti Pudgy Penguins membangun platform IP multi-vertikal yang mengintegrasikan produk fisik ($13M penjualan retail, >1M unit terjual), pengalaman gaming (Pudgy Party mencapai >500k download dalam dua minggu), dan token yang didistribusikan luas (>6M wallet menerima airdrop PENGU).
Kesuksesan jangka panjang ekosistem ini bergantung pada eksekusi lintas ekspansi retail, adopsi gaming, dan utilitas token yang lebih dalam. Meskipun pasar saat ini menghargai Pudgy Penguins dengan premium relatif terhadap peer IP tradisional, trajectory menunjukkan evolusi dari “barang digital spekulatif” menuju platform IP konsumen yang bermakna.
Prospek 2026: Dari Teori menuju Implementasi
Institusi yang dapat membangun kapasitas operasional untuk pasar berkelanjutan hari ini akan berada dalam posisi strategis untuk bergerak cepat ketika kerangka regulasi menjadi jelas. Risiko operasional, treasury, dan tim penyelesaian harus bertransisi dari siklus batch diskrit menuju proses yang truly continuous.
Manajemen kolateral sepanjang waktu, validasi AML/KYC real-time, integrasi kustodi digital, dan penerimaan stablecoin sebagai jalur penyelesaian yang seamless bukan lagi pilihan optional melainkan keharusan kompetitif.
Pasar modal selalu berkembang menuju akses lebih besar dan friksi lebih rendah. Tokenisasi adalah langkah logis berikutnya. Pada tahun 2026, pertanyaan bukan lagi apakah pasar akan beroperasi 24/7, melainkan apakah institusi Anda memiliki kapasitas dan strategi untuk berpartisipasi penuh dalam paradigma baru ini. Mereka yang membangun fondasi operasional hari ini akan memimpin; mereka yang menunda mungkin tidak akan menjadi bagian dari transformasi struktural ini.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Strategi Algoritmik dalam Pasar Modal 24/7: Transformasi Struktural Menjelang 2026
Infrastruktur pasar modal global saat ini masih beroperasi berdasarkan model yang berusia hampir seabad: penetapan harga melalui mekanisme akses terpusat, penyelesaian dalam batch berkala, dan kolateral yang terikat dalam siklus penyelesaian panjang. Model ini kini menghadapi titik perubahan fundamental. Dengan percepatan tokenisasi dan pengurangan waktu penyelesaian dari hari menjadi detik, strategi algoritmik dalam pasar yang beroperasi 24/7 tidak lagi menjadi konsep teoretis melainkan kebutuhan operasional nyata di tahun 2026.
Perubahan ini menandai transisi dari perdagangan terjadwal menuju perdagangan berkelanjutan, dari penyelesaian batch menuju settlement real-time, dan dari manajemen agunan manual menuju alokasi kolateral otomatis dan responsif. Bagi institusi finansial, momentum ini memerlukan adaptasi radikal dalam strategi eksekusi dan manajemen risiko.
Tokenisasi Mendorong Perubahan Mendasar pada Infrastruktur Pasar
Tokenisasi bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi reorganisasi fundamental dari cara aset diperdagangkan dan diselesaikan. Ketika kepemilikan aset dicatat dalam blockchain dan penyelesaian terjadi dalam hitungan detik, hambatan tradisional yang mengunci modal selama berthari-hari akan hilang.
Saat ini, institusi keuangan dipaksa memposisikan aset berhari-hari sebelumnya untuk mengantisipasi kebutuhan dana. Memasuki kelas aset baru memerlukan proses onboarding kompleks, penempatan jaminan, dan periode tunggu minimal lima hingga tujuh hari. Persyaratan penyelesaian T+2 dan T+1 menciptakan kelelahan modal yang signifikan di seluruh ekosistem finansial.
Tokenisasi menghilangkan hambatan-hambatan ini secara simultan. Ketika kolateral menjadi fungibel sepenuhnya dan penyelesaian terjadi dalam detik, institusi dapat melakukan realokasi portofolio secara terus-menerus. Saham, obligasi, aset digital, dan instrumen keuangan lainnya menjadi komponen yang dapat dipertukarkan dalam satu strategi alokasi modal yang selalu aktif.
Para analis pasar memperkirakan bahwa pada tahun 2033, pertumbuhan aset yang ditokenisasi akan mencapai $18,9 triliun, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 53%. Proyeksi ini dianggap moderat ketika mempertimbangkan tren panjang mengurangi friksi pasar sejak era perdagangan elektronik hingga eksekusi algoritmik. Lebih ambisius lagi, beberapa pemangku kepentingan memperkirakan hingga 80% dari seluruh aset dunia akan ditokenisasi pada tahun 2040, mengikuti kurva adopsi S yang eksponensial seperti telepon seluler atau perjalanan udara.
Jalur Regulasi dan Adopsi Global Memperkuat Transisi
Momentum tokenisasi diperkuat oleh sinyal positif dari badan regulasi utama dan ekspansi adopsi di berbagai yurisdiksi. Persetujuan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) kepada Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC) untuk mengembangkan program tokenisasi sekuritas menunjukkan bahwa regulator besar mengakui inevitabilitas transisi ini.
Program DTCC yang akan mencatat kepemilikan saham, ETF, dan surat utang di blockchain merepresentasikan integrasi formal antara ekosistem keuangan tradisional dan infrastruktur blockchain. Kepastian regulasi lebih lanjut tetap kritis, namun langkah SEC ini memberikan jalur yang jelas bagi institusi untuk membangun kapasitas operasional tanpa menunggu kerangka kerja lengkap.
Secara global, Korea Selatan baru-baru ini mencabut larangan selama sembilan tahun terhadap investasi korporat dalam aset kripto, memungkinkan perusahaan publik memegang hingga 5% dari modal ekuitas mereka dalam token utama seperti Bitcoin dan Ethereum. Keputusan ini mencerminkan pergeseran persepsi terhadap aset digital sebagai instrumen investasi yang sah untuk portofolio institusional.
Di sektor perdagangan, Interactive Brokers, pemimpin industri dalam perdagangan elektronik, telah meluncurkan fitur yang memungkinkan klien untuk menyetorkan stablecoin USDC dan RLUSD (milik Ripple) serta PYUSD (milik PayPal) untuk pendanaan akun real-time, 24/7. Integrasi ini menunjukkan bagaimana stablecoin berkembang menjadi saluran penyelesaian yang fungsional dan lancar di seluruh kelas aset.
Eksekusi Algoritmik dan Manajemen Likuiditas Real-Time
Transisi menuju pasar 24/7 menciptakan peluang dan tantangan unik bagi strategi algoritmik. Di pasar yang beroperasi berkelanjutan, algoritma must-berevolusi dari model eksekusi periodik menuju manajemen likuiditas yang adaptif dan responsif real-time.
Dalam lingkungan penyelesaian instant, manfaat kompetitif akan jatuh kepada institusi yang dapat mengelola kolateral secara dinamis, melakukan monitoring AML/KYC dalam waktu nyata, mengintegrasikan kustodi digital, dan menggunakan stablecoin sebagai jalur settlement yang seamless. Strategi algoritmik tradisional yang dioptimalkan untuk sesi perdagangan diskrit akan menjadi obsolete.
Efisiensi modal mencapai dimensi baru ketika agunan tidak lagi terperangkap dalam siklus penyelesaian berbasis batch. Modal yang sebelumnya terikat dalam holding persyaratan akan terbuka untuk realokasi cepat. Stablecoin dan dana pasar uang yang ditokenisasi menjadi “hub” penghubung antara kelas aset yang sebelumnya terpisah, memungkinkan perpindahan instan antar pasar dan meningkatkan kedalaman buku pesanan.
Efek berantai terhadap likuiditas pasar akan signifikan: volume perdagangan meningkat, kecepatan perputaran modal akselerasi, dan risiko penyelesaian menurun drastis. Dalam ekosistem ini, algoritma yang dapat mengoptimalkan alokasi sumber daya lintas aset dan pasar akan menangkap peluang yang tidak dapat diakses oleh pemain yang tetap terikat pada infrastruktur legacy.
Tantangan Distribusi dan Kualitas Aset dalam Paradigma Baru
Meskipun infrastruktur teknis dan regulasi menunjukkan kemajuan, tantangan terbesar dalam adopsi aset digital tetap pada penetrasi distribusi yang bermakna. Kripto masih didominasi oleh trader self-directed; penerimaan institusional belum tercermin dalam adopsi masif di segmen ritel, mass affluent, wealth, dan institusional.
Produk keuangan harus dijual untuk dapat digunakan. Hingga aset digital dapat diakses melalui saluran distribusi yang sama dengan kelas aset tradisional—melalui penasihat finansial, platform kekayaan, dan system bank retail—adopsi institusional tidak akan menerjemahkan diri menjadi kinerja pasar yang berkelanjutan.
Data kinerja dari tahun lalu menunjukkan bahwa aset digital dengan kualitas tertinggi terus mendominasi. CoinDesk 20—yang mencakup mata uang digital, platform smart contract, protokol DeFi, dan infrastruktur utama—menunjukkan outperformance signifikan terhadap CoinDesk 80. Diversifikasi yang bermakna dapat dicapai dalam subset aset berkualitas tinggi tanpa menambah beban kognitif pada investor ritel atau institusional.
Poin penting lainnya adalah resolusi lanskap regulasi. RUU CLARITY menghadapi hambatan signifikan—terutama kontroversi seputar insentif stablecoin yang mempertemukan bank tradisional dengan penerbit non-bank. Kompromi yang strategis dan pemahaman bersama diperlukan untuk memajukan legislasi kritis ini.
Bitcoin dan Ethereum: Sinyal Harga Terbaru di Pasar Volatil
Performa Bitcoin dan Ethereum pada paruh terakhir Januari 2026 mencerminkan volatilitas yang melekat dalam fase transisi pasar. Bitcoin saat ini diperdagangkan pada $84.87K dengan penurunan 24 jam sebesar 5,09%, sementara Ethereum berada di posisi $2.82K dengan penurunan 6,08% dalam periode yang sama.
Menariknya, korelasi 30 hari Bitcoin terhadap emas telah berbalik positif untuk pertama kalinya tahun ini, mencapai 0,40, seiring emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Pergeseran ini menandakan kemungkinan repositioning dari aset safe-haven tradisional. Pertanyaan penting bagi observer pasar adalah apakah tren kenaikan emas yang berkelanjutan akan memberikan momentum jangka menengah kepada Bitcoin, ataukah kelemahan harga BTC yang persisten akan mengonfirmasi pemisahan dari dynamic aset safe-haven.
Secara teknis, Bitcoin masih berada di posisi berat, gagal merebut kembali rata-rata bergerak eksponensial 50 minggu setelah penurunan minggu lalu. Tren ini memerlukan monitoring ketat untuk mengidentifikasi sinyal pembalikan atau penguatan lebih lanjut.
Tahun Kedua Adopsi Institusional: Membangun Kapasitas Operasional
Jika tahun 2025 mewakili tahun pertama pendaftaran kripto dalam institusi kapitalisme tingkat tinggi, maka 2026 adalah tahun kedua—tahun untuk membangun, berkembang, dan mengkhususkan diri. Energi pasar pasca-Hari Pemilihan November 2024 yang membawa reli dahsyat telah memberi jalan kepada realitas operasional.
Fase pertama 2025 ditandai kegembiraan: Bitcoin mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada Hari Pelantikan. Namun seperti mahasiswa baru yang penuh semangat, kripto dengan cepat menghadapi pelajaran pertama. Tantrum tariff dan efek sisa membuat Bitcoin jatuh di bawah $80K dan Ethereum mendekati $1.500. Momentum pulih di kuartal kedua, tetapi kuartal keempat menghadirkan volatilitas punishing dengan peristiwa auto-deleveraging yang menghancurkan kepercayaan.
Untuk menghindari “sophomore slump” (penurunan performa tahun kedua), kripto harus mengatasi tiga tantangan utama: (1) memajukan legislasi kritis seperti RUU CLARITY melalui kompromi strategis; (2) membangun saluran distribusi yang bermakna di luar trader self-directed; dan (3) mempertahankan fokus pada aset digital berkualitas tertinggi yang menyediakan diversifikasi tanpa beban kognitif.
Infrastruktur Matang dan Momentum Ekosistem
Infrastruktur yang diperlukan untuk pasar 24/7 semakin matang. Kustodian yang teratur dan solusi perantara kredit telah berkembang dari tahap proof-of-concept menuju produksi komersial. Protokol DeFi terus berinovasi dalam efisiensi modal dan manajemen risiko. Ekosistem NFT berkembang melampaui spekulasi, dengan proyek seperti Pudgy Penguins membangun platform IP multi-vertikal yang mengintegrasikan produk fisik ($13M penjualan retail, >1M unit terjual), pengalaman gaming (Pudgy Party mencapai >500k download dalam dua minggu), dan token yang didistribusikan luas (>6M wallet menerima airdrop PENGU).
Kesuksesan jangka panjang ekosistem ini bergantung pada eksekusi lintas ekspansi retail, adopsi gaming, dan utilitas token yang lebih dalam. Meskipun pasar saat ini menghargai Pudgy Penguins dengan premium relatif terhadap peer IP tradisional, trajectory menunjukkan evolusi dari “barang digital spekulatif” menuju platform IP konsumen yang bermakna.
Prospek 2026: Dari Teori menuju Implementasi
Institusi yang dapat membangun kapasitas operasional untuk pasar berkelanjutan hari ini akan berada dalam posisi strategis untuk bergerak cepat ketika kerangka regulasi menjadi jelas. Risiko operasional, treasury, dan tim penyelesaian harus bertransisi dari siklus batch diskrit menuju proses yang truly continuous.
Manajemen kolateral sepanjang waktu, validasi AML/KYC real-time, integrasi kustodi digital, dan penerimaan stablecoin sebagai jalur penyelesaian yang seamless bukan lagi pilihan optional melainkan keharusan kompetitif.
Pasar modal selalu berkembang menuju akses lebih besar dan friksi lebih rendah. Tokenisasi adalah langkah logis berikutnya. Pada tahun 2026, pertanyaan bukan lagi apakah pasar akan beroperasi 24/7, melainkan apakah institusi Anda memiliki kapasitas dan strategi untuk berpartisipasi penuh dalam paradigma baru ini. Mereka yang membangun fondasi operasional hari ini akan memimpin; mereka yang menunda mungkin tidak akan menjadi bagian dari transformasi struktural ini.