Optimisme pendukung Bitcoin terhadap penurunan suku bunga global menghadapi tantangan serius. Penelitian terbaru dari dua ekonom terkemuka mengungkapkan bahwa Amerika Serikat justru menghadapi tekanan inflasi yang akan membuat otoritas moneter lebih berhati-hati dalam kebijakan penurunan tarif. Adam Posen dari Peterson Institute for International Economics dan Peter R. Orszag dari Lazard telah menerbitkan analisis yang memproyeksikan inflasi AS dapat melampaui 4% pada tahun ini, mengecewakan harapan pasar kripto yang telah mengandalkan skenario penurunan suku bunga agresif.
Proyeksi ini sangat penting mengingat implikasinya terhadap aset berisiko, khususnya Bitcoin yang saat ini diperdagangkan di level $84.91K dengan penurunan 5.19% dalam 24 jam terakhir. Sedangkan tingkat inflasi resmi yang diukur melalui indeks harga konsumen telah turun menjadi 2,7% pada tahun 2025, proyeksi para ahli ekonomi menunjukkan tren yang berlawanan untuk periode mendatang.
Faktor Ekonomi Pemicu Kenaikan Harga
Penelitian Posen dan Orszag mengidentifikasi beberapa faktor krusial yang dapat mengungguli keuntungan produktivitas dari teknologi artificial intelligence dan penurunan biaya perumahan. Para ekonom menekankan bahwa dampak tarif Trump atas impor akan menyebabkan importir meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen akhir. Meskipun penundaan ini mengurangi lonjakan inflasi jangka pendek, dampak kumulatif dapat menambah 50 basis poin pada inflasi inti pada pertengahan 2026.
Faktor kedua yang signifikan adalah kondisi pasar tenaga kerja yang semakin ketat. Kebijakan deportasi migran berpotensi menciptakan kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi, mendorong kenaikan upah dan akhirnya memicu tekanan inflasi melalui peningkatan permintaan. Selain itu, belanja pemerintah yang meluas dapat mendorong defisit fiskal AS melampaui 7% dari PDB, dipadukan dengan kondisi keuangan yang semakin longgar, menciptakan lingkungan yang mendukung kenaikan harga hidup secara umum.
Implikasi bagi Federal Reserve dan Pasar Keuangan
Proyeksi inflasi yang lebih tinggi akan membuat Federal Reserve mengambil posisi lebih konservatif. Meskipun beberapa bank investasi memperkirakan pemotongan suku bunga sebesar 50-75 basis poin sepanjang tahun ini, para pendukung Bitcoin telah mengantisipasi langkah yang jauh lebih agresif. Kenyataan bahwa faktor struktural dapat mempertahankan inflasi tinggi berarti Fed akan tetap berhati-hati dalam menggerakkan kebijakan moneter mereka.
Paradoks ini terletak pada apa yang disebut sebagai skenario “kebijakan pengejaran.” Ketika bank sentral terlalu konservatif setelah periode disinflasi, mereka mungkin harus melakukan penyesuaian yang lebih mendadak dan disruptif di masa depan. Ini menciptakan ketidakpastian yang merugikan aset berisiko seperti saham dan cryptocurrency.
Dampak terhadap Aset Berisiko dan Bitcoin
Proyeksi inflasi yang lebih tinggi ini coincide dengan kenaikan imbal hasil obligasi global, termasuk Treasury AS yang mencapai level tertinggi lima bulan sebesar 4,31% minggu lalu. Kondisi ini membuat investasi berisiko seperti saham dan cryptocurrency menjadi kurang atraktif bagi investor. Bitcoin, yang diekspektasikan untuk mendapat manfaat dari kebijakan moneter ekspansif, justru mengalami tekanan penjualan.
Data terbaru menunjukkan Bitcoin berada pada level $84.91K dengan penurunan 5.19% dalam 24 jam, mencerminkan sentimen pasar yang lebih hati-hati. Kontras ini jelas terlihat dibandingkan dengan emas yang meloncat di atas $5.500 per ounce, menunjukkan bahwa investor yang mencari penyimpan nilai lebih memilih aset tradisional dibandingkan cryptocurrency.
Kesenjangan Harapan dan Realitas Pasar
Para peneliti menekankan bahwa faktor pendorong inflasi ini lebih signifikan dibandingkan dengan tren penurunan tekanan harga yang menjadi fokus konsensus pasar. Sementara penurunan inflasi perumahan terus berlanjut dan produktivitas meningkat, dampak kombinatif dari kebijakan proteksionisme, pasar tenaga kerja ketat, dan defisit fiskal besar menciptakan skenario inflasi yang lebih persisten.
Implikasi bagi komunitas cryptocurrency jelas: ekspektasi tentang disinflasi dan penurunan suku bunga yang agresif perlu dikalibrasi ulang. Federal Reserve akan bergerak lebih lambat dan penuh pertimbangan, memberikan jeda waktu yang lebih panjang bagi aset berisiko untuk pulih. Situasi ini menggarisbawahi pentingnya memahami dinamika makroekonomi yang lebih luas ketika membuat keputusan investasi di pasar cryptocurrency.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Faktor Pendorong Inflasi: Mengapa Federal Reserve Enggan Menurunkan Suku Bunga
Optimisme pendukung Bitcoin terhadap penurunan suku bunga global menghadapi tantangan serius. Penelitian terbaru dari dua ekonom terkemuka mengungkapkan bahwa Amerika Serikat justru menghadapi tekanan inflasi yang akan membuat otoritas moneter lebih berhati-hati dalam kebijakan penurunan tarif. Adam Posen dari Peterson Institute for International Economics dan Peter R. Orszag dari Lazard telah menerbitkan analisis yang memproyeksikan inflasi AS dapat melampaui 4% pada tahun ini, mengecewakan harapan pasar kripto yang telah mengandalkan skenario penurunan suku bunga agresif.
Proyeksi ini sangat penting mengingat implikasinya terhadap aset berisiko, khususnya Bitcoin yang saat ini diperdagangkan di level $84.91K dengan penurunan 5.19% dalam 24 jam terakhir. Sedangkan tingkat inflasi resmi yang diukur melalui indeks harga konsumen telah turun menjadi 2,7% pada tahun 2025, proyeksi para ahli ekonomi menunjukkan tren yang berlawanan untuk periode mendatang.
Faktor Ekonomi Pemicu Kenaikan Harga
Penelitian Posen dan Orszag mengidentifikasi beberapa faktor krusial yang dapat mengungguli keuntungan produktivitas dari teknologi artificial intelligence dan penurunan biaya perumahan. Para ekonom menekankan bahwa dampak tarif Trump atas impor akan menyebabkan importir meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen akhir. Meskipun penundaan ini mengurangi lonjakan inflasi jangka pendek, dampak kumulatif dapat menambah 50 basis poin pada inflasi inti pada pertengahan 2026.
Faktor kedua yang signifikan adalah kondisi pasar tenaga kerja yang semakin ketat. Kebijakan deportasi migran berpotensi menciptakan kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi, mendorong kenaikan upah dan akhirnya memicu tekanan inflasi melalui peningkatan permintaan. Selain itu, belanja pemerintah yang meluas dapat mendorong defisit fiskal AS melampaui 7% dari PDB, dipadukan dengan kondisi keuangan yang semakin longgar, menciptakan lingkungan yang mendukung kenaikan harga hidup secara umum.
Implikasi bagi Federal Reserve dan Pasar Keuangan
Proyeksi inflasi yang lebih tinggi akan membuat Federal Reserve mengambil posisi lebih konservatif. Meskipun beberapa bank investasi memperkirakan pemotongan suku bunga sebesar 50-75 basis poin sepanjang tahun ini, para pendukung Bitcoin telah mengantisipasi langkah yang jauh lebih agresif. Kenyataan bahwa faktor struktural dapat mempertahankan inflasi tinggi berarti Fed akan tetap berhati-hati dalam menggerakkan kebijakan moneter mereka.
Paradoks ini terletak pada apa yang disebut sebagai skenario “kebijakan pengejaran.” Ketika bank sentral terlalu konservatif setelah periode disinflasi, mereka mungkin harus melakukan penyesuaian yang lebih mendadak dan disruptif di masa depan. Ini menciptakan ketidakpastian yang merugikan aset berisiko seperti saham dan cryptocurrency.
Dampak terhadap Aset Berisiko dan Bitcoin
Proyeksi inflasi yang lebih tinggi ini coincide dengan kenaikan imbal hasil obligasi global, termasuk Treasury AS yang mencapai level tertinggi lima bulan sebesar 4,31% minggu lalu. Kondisi ini membuat investasi berisiko seperti saham dan cryptocurrency menjadi kurang atraktif bagi investor. Bitcoin, yang diekspektasikan untuk mendapat manfaat dari kebijakan moneter ekspansif, justru mengalami tekanan penjualan.
Data terbaru menunjukkan Bitcoin berada pada level $84.91K dengan penurunan 5.19% dalam 24 jam, mencerminkan sentimen pasar yang lebih hati-hati. Kontras ini jelas terlihat dibandingkan dengan emas yang meloncat di atas $5.500 per ounce, menunjukkan bahwa investor yang mencari penyimpan nilai lebih memilih aset tradisional dibandingkan cryptocurrency.
Kesenjangan Harapan dan Realitas Pasar
Para peneliti menekankan bahwa faktor pendorong inflasi ini lebih signifikan dibandingkan dengan tren penurunan tekanan harga yang menjadi fokus konsensus pasar. Sementara penurunan inflasi perumahan terus berlanjut dan produktivitas meningkat, dampak kombinatif dari kebijakan proteksionisme, pasar tenaga kerja ketat, dan defisit fiskal besar menciptakan skenario inflasi yang lebih persisten.
Implikasi bagi komunitas cryptocurrency jelas: ekspektasi tentang disinflasi dan penurunan suku bunga yang agresif perlu dikalibrasi ulang. Federal Reserve akan bergerak lebih lambat dan penuh pertimbangan, memberikan jeda waktu yang lebih panjang bagi aset berisiko untuk pulih. Situasi ini menggarisbawahi pentingnya memahami dinamika makroekonomi yang lebih luas ketika membuat keputusan investasi di pasar cryptocurrency.