Selama hampir seabad, pasar modal global beroperasi berdasarkan premis yang tetap: penemuan harga didorong oleh akses terbatas, penyelesaian dalam batch berkala, dan agunan yang terperangkap dalam siklus settlement. Namun premis tersebut kini mulai retak. Dengan percepatan tokenisasi blockchain dan siklus penyelesaian yang berkurang dari hari menjadi detik, tahun 2026 menandai titik balik di mana infrastruktur pasar global siap bertransformasi dari model tertutup ke operasi berkelanjutan 24/7. Bukan spekulasi — data industri menunjukkan bahwa ini bukan lagi pertanyaan apakah transformasi akan terjadi, melainkan kapan dan seberapa cepat.
David Mercer, CEO LMAX Group, yang telah memimpin infrastruktur perdagangan elektronik selama dua dekade, melihat momentum ini sebagai alasan fundamental mengapa perubahan struktural menjadi inevitable: “Alasan utamanya adalah efisiensi modal. Saat ini, ketika institusi ingin memasuki kelas aset baru, mereka menghadapi hambatan onboarding yang memakan waktu lima hingga tujuh hari, termasuk penempatan agunan dan pemenuhan persyaratan regulatory. Ini mengunci kapital dalam siklus settlement T+2 dan T+1 (transaksi diselesaikan satu atau dua hari kemudian). Tokenisasi menghilangkan hambatan-hambatan tersebut sama sekali.”
Logika di balik transformasi ini sederhana namun powerful. Ketika agunan menjadi fungibel dan penyelesaian terjadi dalam hitungan detik bukan hari, institusi dapat melakukan realokasi portofolio secara terus-menerus tanpa perlu menunggu akhir pekan atau jam trading resmi berakhir. Saham, obligasi, dan aset digital menjadi komponen yang dapat dipertukarkan dalam strategi alokasi modal yang selalu aktif. Seiring stablecoin seperti USDC, RLUSD (milik Ripple), dan PYUSD (milik PayPal) menjadi instrumen settlement yang fungsional dan lancar, modal yang sebelumnya terperangkap dalam siklus settlement warisan akan terbuka.
Dengan pembukaan ini, likuiditas meluas secara dramatis. Buku pesanan menjadi lebih dalam, volume perdagangan meningkat, dan kecepatan perputaran baik aset digital maupun fiat bertambah seiring risiko settlement berkurang. Proyeksi industri (Ripple dan BCG) menunjukkan bahwa pasar aset yang ditokenisasi akan mencapai $18,9 triliun pada tahun 2033, mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 53%. Namun Mercer percaya potensi jangka panjang jauh lebih besar: “Dengan kurva S adoption yang serupa dengan revolusi telepon seluler dan perjalanan udara, ada kemungkinan hingga 80% aset dunia akan ditokenisasi pada tahun 2040.”
Infrastruktur sudah mulai terbentuk. Kepastian regulasi diperoleh ketika SEC memberikan izin kepada Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC) untuk mengembangkan program tokenisasi sekuritas yang mencatat kepemilikan saham, ETF, dan surat utang di blockchain. Kustodian yang diatur dan solusi perantara kredit telah beralih dari fase proof-of-concept menuju produksi komersial. Alasan mengapa 2026 menjadi titik kritis adalah bahwa tahun ini institusi harus mengubah operasional mereka dari siklus batch diskrit menuju proses berkelanjutan — manajemen agunan 24/7, AML/KYC real-time, integrasi kustodi digital, dan penerimaan stablecoin sebagai jalur settlement. Institusi yang dapat mengelola likuiditas dan risiko secara terus-menerus akan menangkap aliran yang tidak dapat dijangkau oleh kompetitor mereka.
Regulasi Berkembang: Adopsi Global Terus Maju Sementara AS Bernegosiasi
Sementara lingkungan regulasi di Amerika Serikat dan Inggris mengalami hambatan signifikan, adopsi kripto global terus maju dengan momentum yang konsisten. Interactive Brokers, raksasa trading elektronik dengan jutaan klien institusional dan retail, mengumumkan pada 16 Januari 2026 bahwa platform mereka kini menerima setoran USDC (Circle) untuk pendanaan akun pialang secara instan, 24/7 — tanpa menunggu jam bank atau waktu settlement tradisional. Ini adalah bukti nyata bahwa infrastruktur untuk operasi 24/7 sudah beroperasi.
Regulasi di Asia menunjukkan momentum positif. Korea Selatan pada 18 Januari menghapus larangan 9 tahun atas investasi kripto korporat, kini mengizinkan perusahaan publik memegang hingga 5% dari modal ekuitas mereka dalam aset kripto, terbatas pada token-token berkualitas tinggi seperti Bitcoin dan Ethereum. Keputusan ini membuka pintu bagi institusi korporat untuk mengalokasikan aset dalam skala bermakna.
Di Amerika Serikat, proposal CLARITY Bill menghadapi jalan yang berat. Kontroversi seputar insentif stablecoin telah memperumit jadwal legislasi, menciptakan gesekan antara bank tradisional dan penerbit stablecoin non-bank seperti Circle dan Ripple. Namun, momentum adopsi internasional menunjukkan bahwa transformasi pasar modal ke model 24/7 tidak menunggu kejelasan regulasi dari satu negara. Ethereum, jaringan kontrak pintar terbesar, melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah alamat baru yang berinteraksi dengan protokol, menandakan partisipasi baru dari pengguna yang sebelumnya tidak terlibat.
Tahun Kedua Kripto: Institusi Bersiap Ekskusi Skala Penuh
Andy Baehr, Kepala Produk dan Riset di CoinDesk Indices, membingkai dinamika 2026 sebagai “tahun kedua” adopsi kripto institusional. Jika 2025 adalah tahun pertama pendaftaran di institusi-institusi utama kapitalisme Amerika, maka 2026 adalah tahun untuk membangun, berkembang, dan mengkhususkan diri. Untuk menghindari “sophomore slump” yang terkenal, kripto harus mencapai tiga milestone kritis:
Pertama, legislasi dan regulasi. RUU CLARITY harus mengatasi impas stablecoin dan kompromi-kompromi perlu dibuat untuk memajukan kerangka kerja regulasi yang koheren. Kedua, distribusi bermakna. Hingga kripto dapat menjangkau segmen ritel, mass affluent, high-net-worth, dan institusional dengan insentif alokasi yang sama seperti kelas aset tradisional, penerimaan institusional tidak akan berujung pada kinerja pasar. Ketiga, fokus pada kualitas. Data menunjukkan bahwa aset digital berkualitas tinggi — 20 nama teratas mencakup mata uang, platform kontrak pintar, protokol DeFi, dan infrastruktur utama — akan terus mendominasi. Diversifikasi menjadi mungkin tanpa membawa beban kognitif yang berlebihan.
Korelasi Bitcoin-Emas Bergerak Positif, Sinyal Stabilisasi Pasar
Tren pasar menunjukkan perubahan yang menarik. Sementara emas mencapai rekor tertinggi baru pekan lalu, korelasi bergulir 30 hari antara Bitcoin dan emas berbalik positif untuk pertama kalinya tahun ini, mencapai 0,40. Pergeseran ini mengindikasikan bahwa Bitcoin mulai berperilaku lebih seperti aset safe-haven tradisional, terutama di tengah ketidakpastian makroekonomi global.
Namun, data harga terbaru menunjukkan volatilitas yang masih tinggi. Bitcoin saat ini diperdagangkan di sekitar $85.32K — turun 4,89% dalam 24 jam terakhir — dengan rekor tertinggi sepanjang masa di $126.08K. Ethereum berada di $2.84K, turun 5,57% dalam periode yang sama. Sebelum menarik kesimpulan bullish, pasar perlu mengkonfirmasi apakah tren naik emas yang berkelanjutan akan memberikan dorongan jangka menengah bagi Bitcoin, atau jika kelemahan harga BTC yang terus-menerus mengonfirmasi pemisahan dari aset safe-haven tradisional.
Implikasi Strategis: Siapa yang Siap untuk 2026?
Transformasi ini membawa implikasi mendalam bagi institusi finansial di seluruh dunia. Mereka yang mulai membangun kapasitas operasional untuk pasar 24/7 sekarang akan berada pada posisi terbaik untuk bergerak cepat ketika kerangka kerja regulasi menjadi jelas. Sebagai contoh, merek NFT seperti Pudgy Penguins telah mengidentifikasi strategi yang tepat untuk era ini: akuisisi pengguna melalui saluran mainstream (mainan, kemitraan retail, konten viral), kemudian onboarding mereka ke Web3 melalui games, NFTs, dan token PENGU yang terdistribusi luas (didrop ke 6 juta+ dompet). Pendekatan multi-vertikal ini menunjukkan bagaimana IP tradisional dapat berkembang menjadi platform konsumen terdesentralisasi.
Alasan-alasan fundamental ini — efisiensi modal, infrastruktur yang matang, regulasi yang berkembang, dan adopsi global — membuat transisi ke pasar modal 24/7 bukanlah spekulasi masa depan, melainkan realitas operasional yang sudah dimulai. Pertanyaan bagi institusi finansial di tahun 2026 bukan lagi apakah mereka harus beradaptasi, tetapi apakah mereka mampu beradaptasi cukup cepat untuk mempertahankan relevansi di lanskap pasar modal yang baru ini. Mereka yang memahami logika fundamental di balik perubahan ini dan mengambil tindakan operasional hari ini akan menjadi pemimpin pasar tahun depan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Alasan Fundamental di Balik Perubahan Pasar Modal: 2026 Jadi Tahun Tokenisasi dan Operasi 24/7
Selama hampir seabad, pasar modal global beroperasi berdasarkan premis yang tetap: penemuan harga didorong oleh akses terbatas, penyelesaian dalam batch berkala, dan agunan yang terperangkap dalam siklus settlement. Namun premis tersebut kini mulai retak. Dengan percepatan tokenisasi blockchain dan siklus penyelesaian yang berkurang dari hari menjadi detik, tahun 2026 menandai titik balik di mana infrastruktur pasar global siap bertransformasi dari model tertutup ke operasi berkelanjutan 24/7. Bukan spekulasi — data industri menunjukkan bahwa ini bukan lagi pertanyaan apakah transformasi akan terjadi, melainkan kapan dan seberapa cepat.
David Mercer, CEO LMAX Group, yang telah memimpin infrastruktur perdagangan elektronik selama dua dekade, melihat momentum ini sebagai alasan fundamental mengapa perubahan struktural menjadi inevitable: “Alasan utamanya adalah efisiensi modal. Saat ini, ketika institusi ingin memasuki kelas aset baru, mereka menghadapi hambatan onboarding yang memakan waktu lima hingga tujuh hari, termasuk penempatan agunan dan pemenuhan persyaratan regulatory. Ini mengunci kapital dalam siklus settlement T+2 dan T+1 (transaksi diselesaikan satu atau dua hari kemudian). Tokenisasi menghilangkan hambatan-hambatan tersebut sama sekali.”
Tokenisasi Hapus Hambatan Operasional, Buka Efisiensi Modal 24/7
Logika di balik transformasi ini sederhana namun powerful. Ketika agunan menjadi fungibel dan penyelesaian terjadi dalam hitungan detik bukan hari, institusi dapat melakukan realokasi portofolio secara terus-menerus tanpa perlu menunggu akhir pekan atau jam trading resmi berakhir. Saham, obligasi, dan aset digital menjadi komponen yang dapat dipertukarkan dalam strategi alokasi modal yang selalu aktif. Seiring stablecoin seperti USDC, RLUSD (milik Ripple), dan PYUSD (milik PayPal) menjadi instrumen settlement yang fungsional dan lancar, modal yang sebelumnya terperangkap dalam siklus settlement warisan akan terbuka.
Dengan pembukaan ini, likuiditas meluas secara dramatis. Buku pesanan menjadi lebih dalam, volume perdagangan meningkat, dan kecepatan perputaran baik aset digital maupun fiat bertambah seiring risiko settlement berkurang. Proyeksi industri (Ripple dan BCG) menunjukkan bahwa pasar aset yang ditokenisasi akan mencapai $18,9 triliun pada tahun 2033, mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 53%. Namun Mercer percaya potensi jangka panjang jauh lebih besar: “Dengan kurva S adoption yang serupa dengan revolusi telepon seluler dan perjalanan udara, ada kemungkinan hingga 80% aset dunia akan ditokenisasi pada tahun 2040.”
Infrastruktur sudah mulai terbentuk. Kepastian regulasi diperoleh ketika SEC memberikan izin kepada Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC) untuk mengembangkan program tokenisasi sekuritas yang mencatat kepemilikan saham, ETF, dan surat utang di blockchain. Kustodian yang diatur dan solusi perantara kredit telah beralih dari fase proof-of-concept menuju produksi komersial. Alasan mengapa 2026 menjadi titik kritis adalah bahwa tahun ini institusi harus mengubah operasional mereka dari siklus batch diskrit menuju proses berkelanjutan — manajemen agunan 24/7, AML/KYC real-time, integrasi kustodi digital, dan penerimaan stablecoin sebagai jalur settlement. Institusi yang dapat mengelola likuiditas dan risiko secara terus-menerus akan menangkap aliran yang tidak dapat dijangkau oleh kompetitor mereka.
Regulasi Berkembang: Adopsi Global Terus Maju Sementara AS Bernegosiasi
Sementara lingkungan regulasi di Amerika Serikat dan Inggris mengalami hambatan signifikan, adopsi kripto global terus maju dengan momentum yang konsisten. Interactive Brokers, raksasa trading elektronik dengan jutaan klien institusional dan retail, mengumumkan pada 16 Januari 2026 bahwa platform mereka kini menerima setoran USDC (Circle) untuk pendanaan akun pialang secara instan, 24/7 — tanpa menunggu jam bank atau waktu settlement tradisional. Ini adalah bukti nyata bahwa infrastruktur untuk operasi 24/7 sudah beroperasi.
Regulasi di Asia menunjukkan momentum positif. Korea Selatan pada 18 Januari menghapus larangan 9 tahun atas investasi kripto korporat, kini mengizinkan perusahaan publik memegang hingga 5% dari modal ekuitas mereka dalam aset kripto, terbatas pada token-token berkualitas tinggi seperti Bitcoin dan Ethereum. Keputusan ini membuka pintu bagi institusi korporat untuk mengalokasikan aset dalam skala bermakna.
Di Amerika Serikat, proposal CLARITY Bill menghadapi jalan yang berat. Kontroversi seputar insentif stablecoin telah memperumit jadwal legislasi, menciptakan gesekan antara bank tradisional dan penerbit stablecoin non-bank seperti Circle dan Ripple. Namun, momentum adopsi internasional menunjukkan bahwa transformasi pasar modal ke model 24/7 tidak menunggu kejelasan regulasi dari satu negara. Ethereum, jaringan kontrak pintar terbesar, melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah alamat baru yang berinteraksi dengan protokol, menandakan partisipasi baru dari pengguna yang sebelumnya tidak terlibat.
Tahun Kedua Kripto: Institusi Bersiap Ekskusi Skala Penuh
Andy Baehr, Kepala Produk dan Riset di CoinDesk Indices, membingkai dinamika 2026 sebagai “tahun kedua” adopsi kripto institusional. Jika 2025 adalah tahun pertama pendaftaran di institusi-institusi utama kapitalisme Amerika, maka 2026 adalah tahun untuk membangun, berkembang, dan mengkhususkan diri. Untuk menghindari “sophomore slump” yang terkenal, kripto harus mencapai tiga milestone kritis:
Pertama, legislasi dan regulasi. RUU CLARITY harus mengatasi impas stablecoin dan kompromi-kompromi perlu dibuat untuk memajukan kerangka kerja regulasi yang koheren. Kedua, distribusi bermakna. Hingga kripto dapat menjangkau segmen ritel, mass affluent, high-net-worth, dan institusional dengan insentif alokasi yang sama seperti kelas aset tradisional, penerimaan institusional tidak akan berujung pada kinerja pasar. Ketiga, fokus pada kualitas. Data menunjukkan bahwa aset digital berkualitas tinggi — 20 nama teratas mencakup mata uang, platform kontrak pintar, protokol DeFi, dan infrastruktur utama — akan terus mendominasi. Diversifikasi menjadi mungkin tanpa membawa beban kognitif yang berlebihan.
Korelasi Bitcoin-Emas Bergerak Positif, Sinyal Stabilisasi Pasar
Tren pasar menunjukkan perubahan yang menarik. Sementara emas mencapai rekor tertinggi baru pekan lalu, korelasi bergulir 30 hari antara Bitcoin dan emas berbalik positif untuk pertama kalinya tahun ini, mencapai 0,40. Pergeseran ini mengindikasikan bahwa Bitcoin mulai berperilaku lebih seperti aset safe-haven tradisional, terutama di tengah ketidakpastian makroekonomi global.
Namun, data harga terbaru menunjukkan volatilitas yang masih tinggi. Bitcoin saat ini diperdagangkan di sekitar $85.32K — turun 4,89% dalam 24 jam terakhir — dengan rekor tertinggi sepanjang masa di $126.08K. Ethereum berada di $2.84K, turun 5,57% dalam periode yang sama. Sebelum menarik kesimpulan bullish, pasar perlu mengkonfirmasi apakah tren naik emas yang berkelanjutan akan memberikan dorongan jangka menengah bagi Bitcoin, atau jika kelemahan harga BTC yang terus-menerus mengonfirmasi pemisahan dari aset safe-haven tradisional.
Implikasi Strategis: Siapa yang Siap untuk 2026?
Transformasi ini membawa implikasi mendalam bagi institusi finansial di seluruh dunia. Mereka yang mulai membangun kapasitas operasional untuk pasar 24/7 sekarang akan berada pada posisi terbaik untuk bergerak cepat ketika kerangka kerja regulasi menjadi jelas. Sebagai contoh, merek NFT seperti Pudgy Penguins telah mengidentifikasi strategi yang tepat untuk era ini: akuisisi pengguna melalui saluran mainstream (mainan, kemitraan retail, konten viral), kemudian onboarding mereka ke Web3 melalui games, NFTs, dan token PENGU yang terdistribusi luas (didrop ke 6 juta+ dompet). Pendekatan multi-vertikal ini menunjukkan bagaimana IP tradisional dapat berkembang menjadi platform konsumen terdesentralisasi.
Alasan-alasan fundamental ini — efisiensi modal, infrastruktur yang matang, regulasi yang berkembang, dan adopsi global — membuat transisi ke pasar modal 24/7 bukanlah spekulasi masa depan, melainkan realitas operasional yang sudah dimulai. Pertanyaan bagi institusi finansial di tahun 2026 bukan lagi apakah mereka harus beradaptasi, tetapi apakah mereka mampu beradaptasi cukup cepat untuk mempertahankan relevansi di lanskap pasar modal yang baru ini. Mereka yang memahami logika fundamental di balik perubahan ini dan mengambil tindakan operasional hari ini akan menjadi pemimpin pasar tahun depan.