Teori nilai uang tradisional mengajarkan bahwa dalam periode inflasi tinggi dan ketidakpastian moneter, aset-aset penyimpan nilai harus mengalami apresiasi signifikan. Namun pada 2025 hingga awal 2026, teori ini menghadirkan paradoks yang membingungkan pasar investasi global. Sementara emas telah melambung lebih dari 80%, bitcoin justru mengalami tekanan penurunan sebesar 15,97% dalam setahun terakhir (data per 29 Januari 2026).
Perbedaan performa drastis ini telah memicu debat mendalam tentang apakah bitcoin benar-benar gagal sebagai penyimpan nilai digital, atau justru fenomena pasar ini mencerminkan dinamika yang lebih kompleks daripada sekadar kegagalan narasi “emas digital.”
Paradoks Perlindungan Nilai dalam Praktik
Menurut teori ekonomi klasik, perlindungan terhadap inflasi seharusnya bekerja sederhana: ketika nilai uang menurun, aset-aset keras yang jumlahnya terbatas akan naik sebagai kompensasi. Emas telah membuktikan teori ini dengan performa solidnya di tengah geopolitik yang bergejolak dan ketidakpastian suku bunga.
Bitcoin, yang dipasarkan sebagai “emas digital” dengan sifat kelangkaan yang sama, seharusnya mengikuti pola yang sama. Namun kenyataannya menunjukkan hal berbeda. Harga bitcoin saat ini berada di level $85.16K setelah mengalami penurunan sejak awal tahun, menciptakan gap performa yang sulit diabaikan.
Pertanyaan yang muncul: apakah ini menunjukkan kegagalan fundamental bitcoin sebagai instrumen penyimpan nilai, atau ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi dinamika pasar?
Teori Nilai Uang Digital vs Fisik: Perspektif Optimis
Para pendukung bitcoin menghadirkan argumen yang menarik untuk menjelaskan fenomena ini. Menurut Jessy Gilger dari Gannett Wealth Advisors, lonjakan emas saat ini lebih merupakan manifestasi dari “memori otot” investor—kecenderungan institusi untuk kembali ke aset yang sudah mereka kenal di masa ketakutan, bukan bukti keunggulan emas dalam melindungi nilai uang jangka panjang.
“Meskipun emas memiliki warisan panjang, bitcoin telah menunjukkan stabilitas teknis di tingkat protokol selama lebih dari lima belas tahun,” ungkapnya. Argumen ini menyarankan bahwa teori nilai uang tidak hanya tentang performa jangka pendek, tetapi tentang efisiensi sistem penyimpan nilai dalam jangka panjang—di mana kelangkaan digital mungkin lebih unggul daripada logam fisik.
Peristiwa Redistribusi, Bukan Kegagalan Permintaan
Mark Connors dari Risk Dimensions menawarkan perspektif yang berbeda tentang teori nilai uang digital. Menurutnya, yang terjadi saat ini bukanlah kegagalan permintaan terhadap bitcoin, melainkan peristiwa distribusi pasokan.
Arus masuk ETF institusional memang sangat besar, tetapi alih-alih mendorong harga naik, dana-dana tersebut hanya menyerap pasokan dari dekade sebelumnya yang dijual oleh para adopter awal. “Kita sedang menyaksikan transfer kepemilikan, bukan kegagalan minat,” jelasnya.
Interpretasi ini penting dalam memahami teori nilai uang modern: tidak semua apresiasi harga mencerminkan peningkatan nilai fundamental, terkadang hanya mengindikasikan perubahan komposisi pemilik aset.
Bitcoin Terjebak Dalam Korelasi Saham Teknologi
Charlie Morris dari ByteTree memberikan wawasan bahwa bitcoin saat ini tidak gagal melindungi nilai uang secara inherent, tetapi justru tertarik pada dinamika aset digital lainnya—terutama saham teknologi. Selama beberapa tahun terakhir, bitcoin dan saham internet menunjukkan korelasi yang sangat erat.
“Emas adalah penyimpan nilai untuk dunia nyata, sementara bitcoin untuk dunia digital. Masalah saat ini berada di dunia nyata,” katanya. Perspektif ini menunjukkan bahwa teori nilai uang perlu mempertimbangkan konteks ekosistem tempat aset tersebut beroperasi.
Rotasi Tertunda: Menunggu Momentum Berikutnya
Peter Lane, CEO Jacobi Asset Management, mengakui bahwa narasi “emas digital” belum terbukti dalam kondisi pasar saat ini. Bitcoin tidak berperilaku seperti perlindungan inflasi yang sesungguhnya atau safe haven selama periode tegang geopolitik.
Namun, ia tetap mempertahankan optimisme yang terbatas: ada “kenyamanan” yang sudah mengakar di pasar massal terhadap logam mulia yang belum berhasil diambil alih bitcoin. “Saya masih percaya pada akhirnya kita akan melihat rotasi tertunda ke BTC, tetapi untuk saat ini investor cenderung memilih apa yang mereka kenal dan percayai,” ungkapnya. Pandangan ini mengintegrasikan pemahaman tentang teori nilai uang dengan psikologi pasar investor.
Ancaman Deflasi dan Kebutuhan Narasi Baru
Anthony Pompliano dari ProCap Financial memberikan perspektif yang sedikit berbeda tentang dinamika pasar saat ini. Bitcoin memang telah berfungsi sebagai perlindungan inflasi selama setengah dekade terakhir, tetapi dengan kemungkinan deflasi di depan mata, bitcoin memerlukan narasi permintaan lain untuk terus mendorong apresiasi.
“Saya tetap optimis tentang prospek masa depan bitcoin, tetapi menyadari bahwa lingkungan makro dan pelaku pasar bitcoin sedang berkembang dengan cepat,” ujarnya. Observasi ini mencerminkan pergeseran dalam teori nilai uang—dari fokus pada perlindungan inflasi ke pemahaman yang lebih holistik tentang fungsi aset dalam berbagai skenario ekonomi.
Teori Nilai Uang: Solusi Permanen vs Perlindungan Sementara
David Parkinson dari organisasi Bitcoin Lightning Network memberikan argumentasi yang paling radikal. Menurutnya, pandangan bahwa “emas digital telah gagal” adalah kebisingan prematur. Pasokan bitcoin yang tetap terbatas dan pertumbuhan jaringan yang berkelanjutan terus memberikan pengembalian yang luar biasa dibandingkan inflasi—bahkan dibandingkan emas dalam kerangka waktu multi-tahun.
“Ini bukan hanya ‘perlindungan’ terhadap inflasi—melainkan solusi permanen terhadapnya,” demikian klaimnya. Argumen ini membedakan antara perlindungan jangka pendek (yang kini ditawarkan emas) dengan solusi struktural jangka panjang (yang diyakini sebagai potensi bitcoin).
Valuasi Bitcoin Relatif: Sinyal Ledakan Menanti?
Andre Dragosch dari Bitwise menambahkan perspektif teknis yang menarik tentang performa bitcoin. Berdasarkan Mayer multiple—metrik yang membandingkan harga bitcoin relatif terhadap moving average jangka panjang—bitcoin kini berada pada level yang sama dengan ledakan FTX tahun 2022 relatif terhadap emas.
Lebih lanjut, menurutnya terdapat under-pricing bitcoin yang sangat besar relatif terhadap lingkungan makro pada 2026 dan tingkat pasokan uang global yang kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang. “Saya cukup yakin bahwa bitcoin akan menarik minat begitu aset keras tradisional mengalami inflasi ke tingkat yang sangat tinggi,” tegasnya.
Analisis ini mengaitkan teori nilai uang dengan metrik valuasi teknis, menyarankan bahwa penundaan performa bitcoin mungkin menciptakan peluang rebounding yang signifikan.
Kesimpulan: Teori Nilai Uang Dalam Transisi
Debat antara pendukung bitcoin dan bukti empiris dari performa emas mencerminkan pergeseran lebih luas dalam bagaimana pasar memahami teori nilai uang di era digital. Sambil emas terus membuktikan statusnya sebagai penyimpan nilai konvensional, bitcoin dan aset digital lainnya masih dalam fase pengujian.
Namun interpretasi dari berbagai ahli industri menunjukkan bahwa yang terjadi saat ini mungkin bukan kegagalan bitcoin, tetapi tahap konsolidasi sebelum rotasi modal berikutnya. Pertanyaannya bukan lagi “apakah bitcoin bisa menjadi penyimpan nilai?” tetapi “kapan pasar akan menyadari efisiensi superior dari kelangkaan digital dibandingkan warisan logam fisik?”
Teori nilai uang, dalam konteks ini, sedang mengalami pengujian ulang di era di mana aset digital mulai menjadi bagian integral dari portofolio institusional global.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Teori Nilai Uang dalam Ujian Pasar: Mengapa Bitcoin Tertinggal dari Emas di Tengah Ketidakpastian
Teori nilai uang tradisional mengajarkan bahwa dalam periode inflasi tinggi dan ketidakpastian moneter, aset-aset penyimpan nilai harus mengalami apresiasi signifikan. Namun pada 2025 hingga awal 2026, teori ini menghadirkan paradoks yang membingungkan pasar investasi global. Sementara emas telah melambung lebih dari 80%, bitcoin justru mengalami tekanan penurunan sebesar 15,97% dalam setahun terakhir (data per 29 Januari 2026).
Perbedaan performa drastis ini telah memicu debat mendalam tentang apakah bitcoin benar-benar gagal sebagai penyimpan nilai digital, atau justru fenomena pasar ini mencerminkan dinamika yang lebih kompleks daripada sekadar kegagalan narasi “emas digital.”
Paradoks Perlindungan Nilai dalam Praktik
Menurut teori ekonomi klasik, perlindungan terhadap inflasi seharusnya bekerja sederhana: ketika nilai uang menurun, aset-aset keras yang jumlahnya terbatas akan naik sebagai kompensasi. Emas telah membuktikan teori ini dengan performa solidnya di tengah geopolitik yang bergejolak dan ketidakpastian suku bunga.
Bitcoin, yang dipasarkan sebagai “emas digital” dengan sifat kelangkaan yang sama, seharusnya mengikuti pola yang sama. Namun kenyataannya menunjukkan hal berbeda. Harga bitcoin saat ini berada di level $85.16K setelah mengalami penurunan sejak awal tahun, menciptakan gap performa yang sulit diabaikan.
Pertanyaan yang muncul: apakah ini menunjukkan kegagalan fundamental bitcoin sebagai instrumen penyimpan nilai, atau ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi dinamika pasar?
Teori Nilai Uang Digital vs Fisik: Perspektif Optimis
Para pendukung bitcoin menghadirkan argumen yang menarik untuk menjelaskan fenomena ini. Menurut Jessy Gilger dari Gannett Wealth Advisors, lonjakan emas saat ini lebih merupakan manifestasi dari “memori otot” investor—kecenderungan institusi untuk kembali ke aset yang sudah mereka kenal di masa ketakutan, bukan bukti keunggulan emas dalam melindungi nilai uang jangka panjang.
“Meskipun emas memiliki warisan panjang, bitcoin telah menunjukkan stabilitas teknis di tingkat protokol selama lebih dari lima belas tahun,” ungkapnya. Argumen ini menyarankan bahwa teori nilai uang tidak hanya tentang performa jangka pendek, tetapi tentang efisiensi sistem penyimpan nilai dalam jangka panjang—di mana kelangkaan digital mungkin lebih unggul daripada logam fisik.
Peristiwa Redistribusi, Bukan Kegagalan Permintaan
Mark Connors dari Risk Dimensions menawarkan perspektif yang berbeda tentang teori nilai uang digital. Menurutnya, yang terjadi saat ini bukanlah kegagalan permintaan terhadap bitcoin, melainkan peristiwa distribusi pasokan.
Arus masuk ETF institusional memang sangat besar, tetapi alih-alih mendorong harga naik, dana-dana tersebut hanya menyerap pasokan dari dekade sebelumnya yang dijual oleh para adopter awal. “Kita sedang menyaksikan transfer kepemilikan, bukan kegagalan minat,” jelasnya.
Interpretasi ini penting dalam memahami teori nilai uang modern: tidak semua apresiasi harga mencerminkan peningkatan nilai fundamental, terkadang hanya mengindikasikan perubahan komposisi pemilik aset.
Bitcoin Terjebak Dalam Korelasi Saham Teknologi
Charlie Morris dari ByteTree memberikan wawasan bahwa bitcoin saat ini tidak gagal melindungi nilai uang secara inherent, tetapi justru tertarik pada dinamika aset digital lainnya—terutama saham teknologi. Selama beberapa tahun terakhir, bitcoin dan saham internet menunjukkan korelasi yang sangat erat.
“Emas adalah penyimpan nilai untuk dunia nyata, sementara bitcoin untuk dunia digital. Masalah saat ini berada di dunia nyata,” katanya. Perspektif ini menunjukkan bahwa teori nilai uang perlu mempertimbangkan konteks ekosistem tempat aset tersebut beroperasi.
Rotasi Tertunda: Menunggu Momentum Berikutnya
Peter Lane, CEO Jacobi Asset Management, mengakui bahwa narasi “emas digital” belum terbukti dalam kondisi pasar saat ini. Bitcoin tidak berperilaku seperti perlindungan inflasi yang sesungguhnya atau safe haven selama periode tegang geopolitik.
Namun, ia tetap mempertahankan optimisme yang terbatas: ada “kenyamanan” yang sudah mengakar di pasar massal terhadap logam mulia yang belum berhasil diambil alih bitcoin. “Saya masih percaya pada akhirnya kita akan melihat rotasi tertunda ke BTC, tetapi untuk saat ini investor cenderung memilih apa yang mereka kenal dan percayai,” ungkapnya. Pandangan ini mengintegrasikan pemahaman tentang teori nilai uang dengan psikologi pasar investor.
Ancaman Deflasi dan Kebutuhan Narasi Baru
Anthony Pompliano dari ProCap Financial memberikan perspektif yang sedikit berbeda tentang dinamika pasar saat ini. Bitcoin memang telah berfungsi sebagai perlindungan inflasi selama setengah dekade terakhir, tetapi dengan kemungkinan deflasi di depan mata, bitcoin memerlukan narasi permintaan lain untuk terus mendorong apresiasi.
“Saya tetap optimis tentang prospek masa depan bitcoin, tetapi menyadari bahwa lingkungan makro dan pelaku pasar bitcoin sedang berkembang dengan cepat,” ujarnya. Observasi ini mencerminkan pergeseran dalam teori nilai uang—dari fokus pada perlindungan inflasi ke pemahaman yang lebih holistik tentang fungsi aset dalam berbagai skenario ekonomi.
Teori Nilai Uang: Solusi Permanen vs Perlindungan Sementara
David Parkinson dari organisasi Bitcoin Lightning Network memberikan argumentasi yang paling radikal. Menurutnya, pandangan bahwa “emas digital telah gagal” adalah kebisingan prematur. Pasokan bitcoin yang tetap terbatas dan pertumbuhan jaringan yang berkelanjutan terus memberikan pengembalian yang luar biasa dibandingkan inflasi—bahkan dibandingkan emas dalam kerangka waktu multi-tahun.
“Ini bukan hanya ‘perlindungan’ terhadap inflasi—melainkan solusi permanen terhadapnya,” demikian klaimnya. Argumen ini membedakan antara perlindungan jangka pendek (yang kini ditawarkan emas) dengan solusi struktural jangka panjang (yang diyakini sebagai potensi bitcoin).
Valuasi Bitcoin Relatif: Sinyal Ledakan Menanti?
Andre Dragosch dari Bitwise menambahkan perspektif teknis yang menarik tentang performa bitcoin. Berdasarkan Mayer multiple—metrik yang membandingkan harga bitcoin relatif terhadap moving average jangka panjang—bitcoin kini berada pada level yang sama dengan ledakan FTX tahun 2022 relatif terhadap emas.
Lebih lanjut, menurutnya terdapat under-pricing bitcoin yang sangat besar relatif terhadap lingkungan makro pada 2026 dan tingkat pasokan uang global yang kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang. “Saya cukup yakin bahwa bitcoin akan menarik minat begitu aset keras tradisional mengalami inflasi ke tingkat yang sangat tinggi,” tegasnya.
Analisis ini mengaitkan teori nilai uang dengan metrik valuasi teknis, menyarankan bahwa penundaan performa bitcoin mungkin menciptakan peluang rebounding yang signifikan.
Kesimpulan: Teori Nilai Uang Dalam Transisi
Debat antara pendukung bitcoin dan bukti empiris dari performa emas mencerminkan pergeseran lebih luas dalam bagaimana pasar memahami teori nilai uang di era digital. Sambil emas terus membuktikan statusnya sebagai penyimpan nilai konvensional, bitcoin dan aset digital lainnya masih dalam fase pengujian.
Namun interpretasi dari berbagai ahli industri menunjukkan bahwa yang terjadi saat ini mungkin bukan kegagalan bitcoin, tetapi tahap konsolidasi sebelum rotasi modal berikutnya. Pertanyaannya bukan lagi “apakah bitcoin bisa menjadi penyimpan nilai?” tetapi “kapan pasar akan menyadari efisiensi superior dari kelangkaan digital dibandingkan warisan logam fisik?”
Teori nilai uang, dalam konteks ini, sedang mengalami pengujian ulang di era di mana aset digital mulai menjadi bagian integral dari portofolio institusional global.