Saat dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi yang berkelanjutan, perilaku aset kripto menciptakan tanda tanya bagi para pendukungnya. Dalam konteks kelemahan dan kelebihan kedua instrumen penyimpan nilai ini, Bitcoin BTC$84.61K menunjukkan performa yang jauh tertinggal dibanding emas, padahal teori ekonomi tradisional menyatakan keduanya seharusnya memainkan peran serupa sebagai pelindung inflasi.
Kelemahan Bitcoin dalam Lindung Nilai Inflasi—Pertanyaan yang Meresahkan Pendukung
Data pasar menunjukkan kontras yang mencolok. Selama periode ketidakpastian ekonomi dan eskalasi geopolitik tahun-tahun terakhir, emas telah melonjak lebih dari 80%, sementara Bitcoin mengalami penurunan sekitar 16,50% dalam satu tahun terakhir. Divergensi ini menciptakan pertanyaan fundamental: mengapa seseorang masih percaya pada Bitcoin sebagai lindung nilai jangka panjang ketika logam mulia dan bahkan saham teknologi memberikan pengembalian yang lebih atraktif?
Fakta ini memaksa para analis untuk mempertanyakan apakah Bitcoin benar-benar telah gagal dalam misinya atau apakah kelemahan jangka pendek ini justru mencerminkan sesuatu yang lebih kompleks dalam dinamika pasar. Para ahli di industri menjabarkan bahwa ini bukan tentang kegagalan fundamental Bitcoin, melainkan tentang bagaimana pasar bereaksi terhadap lingkungan makro yang bergeser dengan cepat.
Kelebihan Pasokan dan ‘Ingatan Otot’ Investor—Penjelasan di Balik Ketinggalan BTC
Para pendukung Bitcoin mengajukan beberapa hipotesis mengapa kelemahan relatif aset digital tersebut tidak mencerminkan kelemahan sistem itu sendiri. Pertama, mereka menunjuk pada konsep “ingatan otot” investor—fenomena psikologis di mana investor institusional kembali ke aset yang sudah mereka kenal saat menghadapi ketidakpastian. Pada masa krisis, logam mulia adalah pilihan default karena warisan sejarah berabad-abad sebagai penyimpan nilai.
Kedua, ada elemen struktural yang sering diabaikan: Bitcoin saat ini sedang mengalami periode transfer kepemilikan besar-besaran. Aliran dana ETF institusional yang masif tidak menggerakkan harga ke atas karena dana tersebut sekadar menyerap pasokan yang telah dijual oleh adopter awal selama dekade terakhir. Ini berarti kelebihan teknis Bitcoin—protokol yang telah terbukti stabil selama lebih dari 15 tahun—belum ditranslasikan menjadi momentum harga karena dinamika penawaran pasar yang masih dalam fase konsolidasi.
Beberapa analis dari firma manajemen aset terkemuka percaya bahwa ketika investor sadar bahwa kelangkaan digital lebih efisien daripada warisan fisik, rotasi modal akan terjadi. Pada titik itu, Bitcoin diharapkan dapat “mengejar” ketertinggalan terhadap emas dalam siklus yang lebih panjang.
Narasi ‘Emas Digital’ dan Rotasi Modal: Berapa Lama Bitcoin Perlu Menunggu?
Menariknya, para maksimalis Bitcoin dan penggemar emas menggunakan narasi yang hampir identik: pasokan terbatas, pencetakan uang berlebihan, inflasi, dan ketidakpastian geopolitik. Perbedaannya terletak pada percaya diri mereka terhadap mana aset yang lebih cocok untuk konteks saat ini.
Para pendukung Bitcoin mempertahankan bahwa “emas digital” adalah jawaban untuk dunia digital yang terus berkembang, sementara emas melayani ekonomi fisik tradisional. Masalahnya, pada 2025-2026 ini, ketidakpastian yang paling mendesak berada di ekonomi fisik—perang, inflasi, dan ketidakpastian suku bunga. Itulah mengapa emas sedang mendominasi. Namun, pandangan jangka panjang tetap optimis: begitu aset keras tradisional mencapai valuasi yang sangat tinggi, modal diproyeksikan akan berputar ke Bitcoin, yang saat ini masih “under-priced” relatif terhadap lingkungan makro.
Beberapa metrik teknis mendukung argumen ini. Berdasarkan Mayer multiple—perbandingan relatif antara Bitcoin dan emas—aset kripto utama tersebut saat ini berada pada level valuasi terendah sejak crash 2022, suatu kondisi yang secara historis menjadi sinyal pembelian yang kuat bagi investor jangka panjang.
Permintaan Baru untuk Bitcoin di Era Potensial Deflasi
Sementara Bitcoin telah berfungsi sebagai lindung nilai inflasi selama setengah dekade terakhir, para profesional di industri mulai melihat masalah baru: kemungkinan deflasi di cakrawala ekonomi. Dalam skenario ini, Bitcoin memerlukan narasi permintaan yang berbeda untuk tetap relevan sebagai instrumen investasi.
Namun optimisme tetap kuat di komunitas Bitcoin. Beberapa ahli percaya bahwa Bitcoin bukan sekadar “lindung nilai” terhadap inflasi, melainkan “solusi permanen”—sistem moneter native untuk internet yang independen dari kebijakan sentral bank. Dalam pandangan ini, teknologi dan adoptasi jaringan yang terus berkembang akan memberikan pengembalian yang jauh melampaui inflasi dalam jangka waktu multi-tahun, terlepas dari apakah ada deflasi atau inflasi.
Data Terkini: Bitcoin dan XRP dalam Tekanan Pasar
Situasi pasar krisis saat ini juga menyentuh altcoin. XRP turun sekitar 5,41% dalam tujuh hari terakhir, bergerak dari level $1,91 menuju $1,82 seiring dengan penurunan Bitcoin yang memicu aksi jual risiko luas di seluruh sektor kripto. Penurunan melaju lebih cepat setelah XRP menembus di bawah level dukungan kunci di $1,87 dengan volume tinggi, menghapus keuntungan minggu sebelumnya sebelum pembeli masuk di zona $1,78–$1,80.
Para trader kini memandang $1,80 sebagai level support yang krusial. Untuk menandakan penarikan korektif daripada awal penurunan yang lebih dalam, pergerakan bertahan kembali di atas kisaran $1,87–$1,90 sangat dibutuhkan. Dinamika ini mencerminkan realitas bahwa selama ketidakpastian pasar berlangsung, aliran modal tetap mengalir ke aset yang dipandang sebagai pelindung nilai tradisional.
Kesimpulan: Kelemahan Saat Ini vs. Kelebihan Jangka Panjang
Kelemahan dan kelebihan Bitcoin dalam konteks pasar saat ini mencerminkan fase transisi yang lebih besar. Aset kripto pertama dunia menunjukkan kelemahan jangka pendek dalam berkompetisi dengan emas sebagai lindung nilai inflasi yang instant, tetapi kelebihannya di sisi teknologi, kelangkaan digital, dan potensi sebagai aset moneter native internet tetap intakt.
Pertanyaan yang akan menentukan dekade berikutnya adalah: kapan investor akan menyadari bahwa rotasi dari emas ke Bitcoin adalah langkah yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga strategis dalam mengamankan nilai di era digital?
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kelemahan dan Kelebihan Bitcoin Dibanding Emas: Analisis Mengapa Reli Logam Mulia Terus Unggul
Saat dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi yang berkelanjutan, perilaku aset kripto menciptakan tanda tanya bagi para pendukungnya. Dalam konteks kelemahan dan kelebihan kedua instrumen penyimpan nilai ini, Bitcoin BTC$84.61K menunjukkan performa yang jauh tertinggal dibanding emas, padahal teori ekonomi tradisional menyatakan keduanya seharusnya memainkan peran serupa sebagai pelindung inflasi.
Kelemahan Bitcoin dalam Lindung Nilai Inflasi—Pertanyaan yang Meresahkan Pendukung
Data pasar menunjukkan kontras yang mencolok. Selama periode ketidakpastian ekonomi dan eskalasi geopolitik tahun-tahun terakhir, emas telah melonjak lebih dari 80%, sementara Bitcoin mengalami penurunan sekitar 16,50% dalam satu tahun terakhir. Divergensi ini menciptakan pertanyaan fundamental: mengapa seseorang masih percaya pada Bitcoin sebagai lindung nilai jangka panjang ketika logam mulia dan bahkan saham teknologi memberikan pengembalian yang lebih atraktif?
Fakta ini memaksa para analis untuk mempertanyakan apakah Bitcoin benar-benar telah gagal dalam misinya atau apakah kelemahan jangka pendek ini justru mencerminkan sesuatu yang lebih kompleks dalam dinamika pasar. Para ahli di industri menjabarkan bahwa ini bukan tentang kegagalan fundamental Bitcoin, melainkan tentang bagaimana pasar bereaksi terhadap lingkungan makro yang bergeser dengan cepat.
Kelebihan Pasokan dan ‘Ingatan Otot’ Investor—Penjelasan di Balik Ketinggalan BTC
Para pendukung Bitcoin mengajukan beberapa hipotesis mengapa kelemahan relatif aset digital tersebut tidak mencerminkan kelemahan sistem itu sendiri. Pertama, mereka menunjuk pada konsep “ingatan otot” investor—fenomena psikologis di mana investor institusional kembali ke aset yang sudah mereka kenal saat menghadapi ketidakpastian. Pada masa krisis, logam mulia adalah pilihan default karena warisan sejarah berabad-abad sebagai penyimpan nilai.
Kedua, ada elemen struktural yang sering diabaikan: Bitcoin saat ini sedang mengalami periode transfer kepemilikan besar-besaran. Aliran dana ETF institusional yang masif tidak menggerakkan harga ke atas karena dana tersebut sekadar menyerap pasokan yang telah dijual oleh adopter awal selama dekade terakhir. Ini berarti kelebihan teknis Bitcoin—protokol yang telah terbukti stabil selama lebih dari 15 tahun—belum ditranslasikan menjadi momentum harga karena dinamika penawaran pasar yang masih dalam fase konsolidasi.
Beberapa analis dari firma manajemen aset terkemuka percaya bahwa ketika investor sadar bahwa kelangkaan digital lebih efisien daripada warisan fisik, rotasi modal akan terjadi. Pada titik itu, Bitcoin diharapkan dapat “mengejar” ketertinggalan terhadap emas dalam siklus yang lebih panjang.
Narasi ‘Emas Digital’ dan Rotasi Modal: Berapa Lama Bitcoin Perlu Menunggu?
Menariknya, para maksimalis Bitcoin dan penggemar emas menggunakan narasi yang hampir identik: pasokan terbatas, pencetakan uang berlebihan, inflasi, dan ketidakpastian geopolitik. Perbedaannya terletak pada percaya diri mereka terhadap mana aset yang lebih cocok untuk konteks saat ini.
Para pendukung Bitcoin mempertahankan bahwa “emas digital” adalah jawaban untuk dunia digital yang terus berkembang, sementara emas melayani ekonomi fisik tradisional. Masalahnya, pada 2025-2026 ini, ketidakpastian yang paling mendesak berada di ekonomi fisik—perang, inflasi, dan ketidakpastian suku bunga. Itulah mengapa emas sedang mendominasi. Namun, pandangan jangka panjang tetap optimis: begitu aset keras tradisional mencapai valuasi yang sangat tinggi, modal diproyeksikan akan berputar ke Bitcoin, yang saat ini masih “under-priced” relatif terhadap lingkungan makro.
Beberapa metrik teknis mendukung argumen ini. Berdasarkan Mayer multiple—perbandingan relatif antara Bitcoin dan emas—aset kripto utama tersebut saat ini berada pada level valuasi terendah sejak crash 2022, suatu kondisi yang secara historis menjadi sinyal pembelian yang kuat bagi investor jangka panjang.
Permintaan Baru untuk Bitcoin di Era Potensial Deflasi
Sementara Bitcoin telah berfungsi sebagai lindung nilai inflasi selama setengah dekade terakhir, para profesional di industri mulai melihat masalah baru: kemungkinan deflasi di cakrawala ekonomi. Dalam skenario ini, Bitcoin memerlukan narasi permintaan yang berbeda untuk tetap relevan sebagai instrumen investasi.
Namun optimisme tetap kuat di komunitas Bitcoin. Beberapa ahli percaya bahwa Bitcoin bukan sekadar “lindung nilai” terhadap inflasi, melainkan “solusi permanen”—sistem moneter native untuk internet yang independen dari kebijakan sentral bank. Dalam pandangan ini, teknologi dan adoptasi jaringan yang terus berkembang akan memberikan pengembalian yang jauh melampaui inflasi dalam jangka waktu multi-tahun, terlepas dari apakah ada deflasi atau inflasi.
Data Terkini: Bitcoin dan XRP dalam Tekanan Pasar
Situasi pasar krisis saat ini juga menyentuh altcoin. XRP turun sekitar 5,41% dalam tujuh hari terakhir, bergerak dari level $1,91 menuju $1,82 seiring dengan penurunan Bitcoin yang memicu aksi jual risiko luas di seluruh sektor kripto. Penurunan melaju lebih cepat setelah XRP menembus di bawah level dukungan kunci di $1,87 dengan volume tinggi, menghapus keuntungan minggu sebelumnya sebelum pembeli masuk di zona $1,78–$1,80.
Para trader kini memandang $1,80 sebagai level support yang krusial. Untuk menandakan penarikan korektif daripada awal penurunan yang lebih dalam, pergerakan bertahan kembali di atas kisaran $1,87–$1,90 sangat dibutuhkan. Dinamika ini mencerminkan realitas bahwa selama ketidakpastian pasar berlangsung, aliran modal tetap mengalir ke aset yang dipandang sebagai pelindung nilai tradisional.
Kesimpulan: Kelemahan Saat Ini vs. Kelebihan Jangka Panjang
Kelemahan dan kelebihan Bitcoin dalam konteks pasar saat ini mencerminkan fase transisi yang lebih besar. Aset kripto pertama dunia menunjukkan kelemahan jangka pendek dalam berkompetisi dengan emas sebagai lindung nilai inflasi yang instant, tetapi kelebihannya di sisi teknologi, kelangkaan digital, dan potensi sebagai aset moneter native internet tetap intakt.
Pertanyaan yang akan menentukan dekade berikutnya adalah: kapan investor akan menyadari bahwa rotasi dari emas ke Bitcoin adalah langkah yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga strategis dalam mengamankan nilai di era digital?