Kripto global sedang mengalami momentum bearish yang kuat. Bitcoin, setelah sempat menembus level $100.000 di kuartal sebelumnya, kini terjerembab ke zona $83.500, mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir dengan penurunan 24 jam mencapai -6,56%. Tekanan ini bukan sekadar fluktuasi normal pasar, melainkan cerminan dari kondisi makroekonomi yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian geopolitik.
Berbicara tentang arti eskalasi dalam konteks ini sangat penting. Eskalasi merujuk pada peningkatan atau perpanjangan dari suatu kondisi konfliktual—dalam hal ini, eskalasi tarif perdagangan, geopolitik, atau kebijakan moneter yang semakin ketat. Ketika eskalasi terjadi, dampaknya meluas ke berbagai sektor, termasuk pasar aset digital yang sensitif terhadap sentimen global.
Prediksi Penurunan Bitcoin: Target Teknis vs Realitas Makro
Trader berpengalaman Peter Brandt, yang telah berkecimpung di pasar futures sejak 1975 dengan basis pengikut melebihi 852.000 di platform X, baru-baru ini mengeluarkan peringatan. Brandt memprediksi bitcoin dapat turun ke zona $58.000 hingga $62.000 dalam rentang waktu yang terbatas ke depan. Proyeksi ini didasarkan pada analisis chart yang menunjukkan hambatan perlawanan kuat di sekitar level $102.300, sambil tren bearish tetap mendominasi lanskap teknis.
Dalam unggahan di X, Brandt dengan cukup rendah hati menyatakan bahwa dia “salah 50% dari waktu” dan tidak merasa terganggu jika proyeksinya meleset. Transparansi semacam ini penting untuk dipahami investor—prediksi teknis selalu membawa probabilitas kesalahan, terutama ketika faktor eksternal bergerak di luar ekspektasi model.
Ketika Makro Mengalahkan Grafik: Peran Eskalasi Geopolitik dan Kebijakan
Namun, dua analis pasar terkemuka mengingatkan bahwa fokus semata pada level teknis bisa menyesatkan. Jason Fernandes, analis pasar dan salah satu pendiri AdLunam, serta Mati Greenspan, pendiri Quantum Economics, sama-sama menekankan bahwa faktor makroekonomi—terutama yang berkaitan dengan eskalasi kebijakan dan ketegangan perdagangan—akan menjadi pemicu penurunan bitcoin yang lebih fundamental.
Fernandes menunjuk beberapa elemen kunci yang bekerja melawan bitcoin. Pertama, inflasi Amerika memang turun di bawah 2%, namun Federal Reserve tetap menahan kebijakan yang ketat dan tidak segera menurunkan suku bunga. Kedua, dan ini terkait langsung dengan arti eskalasi, setiap peningkatan atau perpanjangan konflik tarif antara Amerika dan Uni Eropa—termasuk tensip seputar Greenland—bisa memicu inflasi kembali dan menunda pemotongan suku bunga lebih jauh.
“Ketika suku bunga tetap tinggi dan likuiditas dibatasi, pergerakan kembali ke zona $50.000 untuk bitcoin sangat mungkin terjadi,” ujar Fernandes dalam analisisnya. Eskalasi ketegangan geopolitik ini tidak hanya berdampak pada pasar saham atau obligasi, tetapi juga mengalir langsung ke aset-aset spekulatif seperti kripto.
Greenspan menambahkan sudut pandang yang sejalan. Setelah bertahun-tahun penarikan likuiditas yang dipicu oleh Fed, ditambah kondisi ekonomi yang telah menjadi tantangan selama beberapa dekade terakhir, faktor makro kini memiliki pengaruh yang jauh lebih dominan dibanding pola grafik semata.
Data dari platform perdagangan terdesentralisasi dan Deribit, bursa opsi kripto terbesar, menunjukkan probabilitas empiris yang mengkhawatirkan. Berdasarkan pricing opsi, kemungkinan bitcoin turun di bawah $80.000 pada akhir Juni diperkirakan mencapai 30 persen. Angka ini bukan sekadar angka spekulatif—ini adalah ekspektasi yang dihitung dari premium opsi put dan call di pasar, mencerminkan sentimen trader institusional yang bersiap menghadapi penurunan lebih lanjut.
Volatilitas berkelanjutan ini juga tercermin dari data volume perdagangan. Volume spot kripto global turun drastis dari $1,7 triliun tahun lalu menjadi $900 miliar—sebuah kontraksi 50% yang menunjukkan berkurangnya antusiasme pasar dan sikap investor yang jauh lebih hati-hati.
Eskalasi sebagai Lensa Pemahaman Pasar Global
Memahami arti eskalasi menjadi kunci untuk membaca pasar kripto modern. Eskalasi bukan hanya tentang angka atau level harga—ini tentang sistem yang saling terhubung. Ketika eskalasi tarif terjadi, pemerintah sentral menjadi defensif. Ketika eskalasi geopolitik meninggi, investor mencari aset safe haven. Sebaliknya, bitcoin dan aset kripto sering menderita dalam kondisi ketidakpastian tinggi karena dianggap sebagai aset berisiko tinggi yang akan dimulai dari oleh investor institusional.
Fernandes memberikan wawasan akhir yang berharga: untuk mengukur langkah selanjutnya bitcoin, investor harus memantau tiga pilar utama—perkembangan situasi di Greenland (proxy dari ketegangan geopolitik), kebijakan Federal Reserve, dan tren suku bunga AS. Ketiga elemen ini membentuk segitiga yang menentukan nasib kripto dalam jangka medium.
Outlook: Disiapkan untuk Skenario Penurunan
Stok kripto yang sebagian besar sudah tertekan di Januari semakin merosot pada hari-hari terakhir seiring Bitcoin memecahkan bawah $84.000. Miner bitcoin yang telah mengalihkan strategi mereka ke infrastruktur AI dan komputasi performa tinggi terus menunjukkan ketahanan lebih baik dibanding yang tetap fokus pada pertambangan tradisional.
Bagi investor dan trader, pesan yang jelas adalah: jangan terpesona semata oleh analisis teknis. Faktor eksternal—termasuk eskalasi yang bisa terjadi kapan saja di berbagai front—akan terus mendominasi perilaku pasar. Pada fase ini, kehati-hatian dan diversifikasi bukan hanya saran bijak, melainkan keharusan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Memahami Arti Eskalasi Tarif dan Dampaknya pada Penurunan Bitcoin hingga Level Kritis
Kripto global sedang mengalami momentum bearish yang kuat. Bitcoin, setelah sempat menembus level $100.000 di kuartal sebelumnya, kini terjerembab ke zona $83.500, mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir dengan penurunan 24 jam mencapai -6,56%. Tekanan ini bukan sekadar fluktuasi normal pasar, melainkan cerminan dari kondisi makroekonomi yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian geopolitik.
Berbicara tentang arti eskalasi dalam konteks ini sangat penting. Eskalasi merujuk pada peningkatan atau perpanjangan dari suatu kondisi konfliktual—dalam hal ini, eskalasi tarif perdagangan, geopolitik, atau kebijakan moneter yang semakin ketat. Ketika eskalasi terjadi, dampaknya meluas ke berbagai sektor, termasuk pasar aset digital yang sensitif terhadap sentimen global.
Prediksi Penurunan Bitcoin: Target Teknis vs Realitas Makro
Trader berpengalaman Peter Brandt, yang telah berkecimpung di pasar futures sejak 1975 dengan basis pengikut melebihi 852.000 di platform X, baru-baru ini mengeluarkan peringatan. Brandt memprediksi bitcoin dapat turun ke zona $58.000 hingga $62.000 dalam rentang waktu yang terbatas ke depan. Proyeksi ini didasarkan pada analisis chart yang menunjukkan hambatan perlawanan kuat di sekitar level $102.300, sambil tren bearish tetap mendominasi lanskap teknis.
Dalam unggahan di X, Brandt dengan cukup rendah hati menyatakan bahwa dia “salah 50% dari waktu” dan tidak merasa terganggu jika proyeksinya meleset. Transparansi semacam ini penting untuk dipahami investor—prediksi teknis selalu membawa probabilitas kesalahan, terutama ketika faktor eksternal bergerak di luar ekspektasi model.
Ketika Makro Mengalahkan Grafik: Peran Eskalasi Geopolitik dan Kebijakan
Namun, dua analis pasar terkemuka mengingatkan bahwa fokus semata pada level teknis bisa menyesatkan. Jason Fernandes, analis pasar dan salah satu pendiri AdLunam, serta Mati Greenspan, pendiri Quantum Economics, sama-sama menekankan bahwa faktor makroekonomi—terutama yang berkaitan dengan eskalasi kebijakan dan ketegangan perdagangan—akan menjadi pemicu penurunan bitcoin yang lebih fundamental.
Fernandes menunjuk beberapa elemen kunci yang bekerja melawan bitcoin. Pertama, inflasi Amerika memang turun di bawah 2%, namun Federal Reserve tetap menahan kebijakan yang ketat dan tidak segera menurunkan suku bunga. Kedua, dan ini terkait langsung dengan arti eskalasi, setiap peningkatan atau perpanjangan konflik tarif antara Amerika dan Uni Eropa—termasuk tensip seputar Greenland—bisa memicu inflasi kembali dan menunda pemotongan suku bunga lebih jauh.
“Ketika suku bunga tetap tinggi dan likuiditas dibatasi, pergerakan kembali ke zona $50.000 untuk bitcoin sangat mungkin terjadi,” ujar Fernandes dalam analisisnya. Eskalasi ketegangan geopolitik ini tidak hanya berdampak pada pasar saham atau obligasi, tetapi juga mengalir langsung ke aset-aset spekulatif seperti kripto.
Greenspan menambahkan sudut pandang yang sejalan. Setelah bertahun-tahun penarikan likuiditas yang dipicu oleh Fed, ditambah kondisi ekonomi yang telah menjadi tantangan selama beberapa dekade terakhir, faktor makro kini memiliki pengaruh yang jauh lebih dominan dibanding pola grafik semata.
Indikator Pasar: Harapan Volatilitas Berkelanjutan
Data dari platform perdagangan terdesentralisasi dan Deribit, bursa opsi kripto terbesar, menunjukkan probabilitas empiris yang mengkhawatirkan. Berdasarkan pricing opsi, kemungkinan bitcoin turun di bawah $80.000 pada akhir Juni diperkirakan mencapai 30 persen. Angka ini bukan sekadar angka spekulatif—ini adalah ekspektasi yang dihitung dari premium opsi put dan call di pasar, mencerminkan sentimen trader institusional yang bersiap menghadapi penurunan lebih lanjut.
Volatilitas berkelanjutan ini juga tercermin dari data volume perdagangan. Volume spot kripto global turun drastis dari $1,7 triliun tahun lalu menjadi $900 miliar—sebuah kontraksi 50% yang menunjukkan berkurangnya antusiasme pasar dan sikap investor yang jauh lebih hati-hati.
Eskalasi sebagai Lensa Pemahaman Pasar Global
Memahami arti eskalasi menjadi kunci untuk membaca pasar kripto modern. Eskalasi bukan hanya tentang angka atau level harga—ini tentang sistem yang saling terhubung. Ketika eskalasi tarif terjadi, pemerintah sentral menjadi defensif. Ketika eskalasi geopolitik meninggi, investor mencari aset safe haven. Sebaliknya, bitcoin dan aset kripto sering menderita dalam kondisi ketidakpastian tinggi karena dianggap sebagai aset berisiko tinggi yang akan dimulai dari oleh investor institusional.
Fernandes memberikan wawasan akhir yang berharga: untuk mengukur langkah selanjutnya bitcoin, investor harus memantau tiga pilar utama—perkembangan situasi di Greenland (proxy dari ketegangan geopolitik), kebijakan Federal Reserve, dan tren suku bunga AS. Ketiga elemen ini membentuk segitiga yang menentukan nasib kripto dalam jangka medium.
Outlook: Disiapkan untuk Skenario Penurunan
Stok kripto yang sebagian besar sudah tertekan di Januari semakin merosot pada hari-hari terakhir seiring Bitcoin memecahkan bawah $84.000. Miner bitcoin yang telah mengalihkan strategi mereka ke infrastruktur AI dan komputasi performa tinggi terus menunjukkan ketahanan lebih baik dibanding yang tetap fokus pada pertambangan tradisional.
Bagi investor dan trader, pesan yang jelas adalah: jangan terpesona semata oleh analisis teknis. Faktor eksternal—termasuk eskalasi yang bisa terjadi kapan saja di berbagai front—akan terus mendominasi perilaku pasar. Pada fase ini, kehati-hatian dan diversifikasi bukan hanya saran bijak, melainkan keharusan.