Bitcoin mengalami tekanan jual yang kuat dalam beberapa jam terakhir, mencerminkan volatilitas yang menjadi ciri pasar kripto di masa ketidakpastian geopolitik. Berdasarkan data pasar terbaru per 30 Januari 2026, mata uang kripto utama mencatat harga sebesar $83.44K, dengan penurunan sebesar 4.37% dalam 24 jam terakhir. Besarnya pergerakan ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor yang berusaha memahami faktor di balik koreksi ini.
Besarnya penurunan saat ini dan konteks pasar
Para trader memperhatikan bagaimana Bitcoin mengalami tekanan jual yang signifikan, melewati beberapa level support dalam waktu singkat. Dinamika ini bertentangan dengan harapan stabilitas yang banyak analis prediksi untuk tahap tahun ini. Kedalaman penurunan ini menunjukkan bahwa kekuatan yang lebih besar dari sekadar spekulasi sedang mendorong pergerakan harga.
Konflik dagang: katalis utama volatilitas
Akar dari tekanan jual ini terletak pada meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Eropa. Pemerintah AS mengumumkan niatnya untuk memberlakukan tarif signifikan (antara 10% dan 25%) kepada delapan negara Eropa, termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris. Langkah ini menanggapi ketidaksepakatan diplomatik yang lebih besar, menimbulkan ketidakpastian di pasar global.
Dalam saat konflik geopolitik, investor institusional dan ritel cenderung mencari perlindungan di aset yang dianggap aman, meninggalkan posisi berisiko tinggi seperti mata uang kripto. Bitcoin, yang dipandang sebagai aset yang volatil dan spekulatif, sering menjadi sasaran penjualan preventif selama periode ketidakpastian makroekonomi.
Faktor tambahan yang memperkuat penurunan
Selain konflik dagang, faktor lain turut berkontribusi terhadap tekanan saat ini. Likuiditas rendah yang khas selama periode liburan tertentu mengurangi kemampuan pasar untuk menyerap volume trading besar tanpa menyebabkan pergerakan harga yang diperbesar. Ketika partisipan aktif berkurang dan aliran modal menurun, setiap pesanan jual besar dapat menyebabkan koreksi yang lebih tajam.
Para analis menyarankan untuk menjaga pengamatan pasar secara hati-hati dan menunggu indikator volatilitas kembali normal sebelum mengambil keputusan penting terkait posisi Bitcoin. Kesabaran selama masa ketidakpastian telah terbukti menjadi strategi bijak bagi investor jangka panjang.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Bitcoin terus menurun di tengah ketegangan perdagangan global
Bitcoin mengalami tekanan jual yang kuat dalam beberapa jam terakhir, mencerminkan volatilitas yang menjadi ciri pasar kripto di masa ketidakpastian geopolitik. Berdasarkan data pasar terbaru per 30 Januari 2026, mata uang kripto utama mencatat harga sebesar $83.44K, dengan penurunan sebesar 4.37% dalam 24 jam terakhir. Besarnya pergerakan ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor yang berusaha memahami faktor di balik koreksi ini.
Besarnya penurunan saat ini dan konteks pasar
Para trader memperhatikan bagaimana Bitcoin mengalami tekanan jual yang signifikan, melewati beberapa level support dalam waktu singkat. Dinamika ini bertentangan dengan harapan stabilitas yang banyak analis prediksi untuk tahap tahun ini. Kedalaman penurunan ini menunjukkan bahwa kekuatan yang lebih besar dari sekadar spekulasi sedang mendorong pergerakan harga.
Konflik dagang: katalis utama volatilitas
Akar dari tekanan jual ini terletak pada meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Eropa. Pemerintah AS mengumumkan niatnya untuk memberlakukan tarif signifikan (antara 10% dan 25%) kepada delapan negara Eropa, termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris. Langkah ini menanggapi ketidaksepakatan diplomatik yang lebih besar, menimbulkan ketidakpastian di pasar global.
Dalam saat konflik geopolitik, investor institusional dan ritel cenderung mencari perlindungan di aset yang dianggap aman, meninggalkan posisi berisiko tinggi seperti mata uang kripto. Bitcoin, yang dipandang sebagai aset yang volatil dan spekulatif, sering menjadi sasaran penjualan preventif selama periode ketidakpastian makroekonomi.
Faktor tambahan yang memperkuat penurunan
Selain konflik dagang, faktor lain turut berkontribusi terhadap tekanan saat ini. Likuiditas rendah yang khas selama periode liburan tertentu mengurangi kemampuan pasar untuk menyerap volume trading besar tanpa menyebabkan pergerakan harga yang diperbesar. Ketika partisipan aktif berkurang dan aliran modal menurun, setiap pesanan jual besar dapat menyebabkan koreksi yang lebih tajam.
Para analis menyarankan untuk menjaga pengamatan pasar secara hati-hati dan menunggu indikator volatilitas kembali normal sebelum mengambil keputusan penting terkait posisi Bitcoin. Kesabaran selama masa ketidakpastian telah terbukti menjadi strategi bijak bagi investor jangka panjang.