Emas baru saja mengalami periode pertumbuhan yang mengesankan dalam waktu dekat ini, meningkat sekitar 85% dalam 12 bulan terakhir. Namun, ketika aset apa pun mengikuti kurva parabola — yaitu meningkat dengan bentuk melengkung eksponensial — pasar sejarah biasanya mencatat koreksi besar berikutnya. Emas bukanlah pengecualian, dan siklus parabola di masa lalu menunjukkan tanda-tanda peringatan yang jelas.
Puncak Parabola Emas Dalam Sejarah Pasar
Untuk memahami lebih dalam tentang risiko saat ini, kita perlu kembali ke momen-momen ketika emas mencapai puncak parabola serupa. Pada tahun 1980, emas menyentuh level hampir $850 sebelum memulai koreksi jangka panjang, turun 40–60% dan membutuhkan bertahun-tahun untuk pulih. Siklus serupa terjadi pada tahun 2011, ketika emas mencapai puncak dekat $1,920, lalu turun sekitar 43% dalam beberapa tahun berikutnya. Bahkan yang lebih baru, pada tahun 2020, emas menyentuh level $2,075, diikuti oleh fase koreksi sebesar 20–25%.
Dalam setiap kasus, pertumbuhan parabola bukanlah tanda keberlanjutan, melainkan sinyal bahwa pasar terlalu panas, mudah dipengaruhi oleh emosi investor dan permintaan terhadap alat perlindungan sementara.
Model Pasar yang Jelas: Siklus Parabola dan Konsekuensinya
Dari pengamatan terhadap fase pertumbuhan sebesar 60–85% seperti saat ini, emas biasanya mengikuti pola yang cukup umum. Setelah lonjakan besar secara parabola, emas sering mengalami fase koreksi sebesar 20–40%, kemudian bergerak sideways selama bertahun-tahun sebelum pasar benar-benar di-reset. Itu bukan kehilangan permanen, melainkan proses alami dari pasar mana pun ketika terlalu melebar.
Kesalahan terbesar yang dilakukan banyak investor adalah percaya bahwa kenaikan parabola akan berlangsung selamanya. Sejarah mengatakan sebaliknya. Lonjakan eksponensial — baik dalam emas maupun aset apa pun — selalu mengarah pada koreksi sesuai hukum pasar.
Parabola dan Risiko Tersembunyi
Ketika emas meningkat secara parabola, ia menarik minat investor yang menggunakan leverage dan mereka yang mengalami sindrom takut kehilangan peluang (FOMO). Inilah saat-saat ketika pasar berakhir dengan kerugian terbesar. Harga beli tertinggi biasanya tercatat di akhir fase parabola, saat sentimen pasar berada pada puncaknya dan risiko koreksi berada pada tingkat yang paling berbahaya.
Emas tetap menjadi alat perlindungan jangka panjang yang berharga, tetapi bukan aset yang linier. Lonjakan parabola tidak mencerminkan nilai intrinsik, melainkan merupakan ekspresi sementara dari permintaan perlindungan global. Ketika permintaan tersebut menurun atau pasar menjadi stabil, koreksi tidak dapat dihindari.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Ketika Kurva Parabol dari Emas Mengalami Batasan: Pelajaran dari Sejarah Pasar
Emas baru saja mengalami periode pertumbuhan yang mengesankan dalam waktu dekat ini, meningkat sekitar 85% dalam 12 bulan terakhir. Namun, ketika aset apa pun mengikuti kurva parabola — yaitu meningkat dengan bentuk melengkung eksponensial — pasar sejarah biasanya mencatat koreksi besar berikutnya. Emas bukanlah pengecualian, dan siklus parabola di masa lalu menunjukkan tanda-tanda peringatan yang jelas.
Puncak Parabola Emas Dalam Sejarah Pasar
Untuk memahami lebih dalam tentang risiko saat ini, kita perlu kembali ke momen-momen ketika emas mencapai puncak parabola serupa. Pada tahun 1980, emas menyentuh level hampir $850 sebelum memulai koreksi jangka panjang, turun 40–60% dan membutuhkan bertahun-tahun untuk pulih. Siklus serupa terjadi pada tahun 2011, ketika emas mencapai puncak dekat $1,920, lalu turun sekitar 43% dalam beberapa tahun berikutnya. Bahkan yang lebih baru, pada tahun 2020, emas menyentuh level $2,075, diikuti oleh fase koreksi sebesar 20–25%.
Dalam setiap kasus, pertumbuhan parabola bukanlah tanda keberlanjutan, melainkan sinyal bahwa pasar terlalu panas, mudah dipengaruhi oleh emosi investor dan permintaan terhadap alat perlindungan sementara.
Model Pasar yang Jelas: Siklus Parabola dan Konsekuensinya
Dari pengamatan terhadap fase pertumbuhan sebesar 60–85% seperti saat ini, emas biasanya mengikuti pola yang cukup umum. Setelah lonjakan besar secara parabola, emas sering mengalami fase koreksi sebesar 20–40%, kemudian bergerak sideways selama bertahun-tahun sebelum pasar benar-benar di-reset. Itu bukan kehilangan permanen, melainkan proses alami dari pasar mana pun ketika terlalu melebar.
Kesalahan terbesar yang dilakukan banyak investor adalah percaya bahwa kenaikan parabola akan berlangsung selamanya. Sejarah mengatakan sebaliknya. Lonjakan eksponensial — baik dalam emas maupun aset apa pun — selalu mengarah pada koreksi sesuai hukum pasar.
Parabola dan Risiko Tersembunyi
Ketika emas meningkat secara parabola, ia menarik minat investor yang menggunakan leverage dan mereka yang mengalami sindrom takut kehilangan peluang (FOMO). Inilah saat-saat ketika pasar berakhir dengan kerugian terbesar. Harga beli tertinggi biasanya tercatat di akhir fase parabola, saat sentimen pasar berada pada puncaknya dan risiko koreksi berada pada tingkat yang paling berbahaya.
Emas tetap menjadi alat perlindungan jangka panjang yang berharga, tetapi bukan aset yang linier. Lonjakan parabola tidak mencerminkan nilai intrinsik, melainkan merupakan ekspresi sementara dari permintaan perlindungan global. Ketika permintaan tersebut menurun atau pasar menjadi stabil, koreksi tidak dapat dihindari.