Pada tanggal 12 Maret, menurut laporan terbaru dari Cointelegraph, perusahaan keamanan siber CertiK menunjukkan bahwa dengan semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan dan teknologi deepfake dalam jaringan penipuan, skala penipuan ATM cryptocurrency di Amerika Serikat sedang berkembang dengan pesat. Laporan tersebut memprediksi bahwa kerugian akibat penipuan semacam ini dapat mencapai sekitar 333 juta dolar AS pada tahun 2025, dan jumlah pengaduan terkait juga meningkat sebesar 33% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikannya salah satu jenis kejahatan keuangan yang paling cepat berkembang.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa mesin ATM cryptocurrency (juga dikenal sebagai terminal otomatis cryptocurrency) yang memiliki fitur “penukaran cepat” dan “verifikasi identitas rendah” sedang dimanfaatkan secara besar-besaran oleh kelompok kriminal. Pengguna biasanya dapat menukarkan uang tunai menjadi aset digital dalam waktu sekitar lima menit, dan beberapa perangkat hanya memerlukan verifikasi identitas minimal, sehingga menjadi saluran yang nyaman bagi penipu untuk memindahkan dana dan melakukan pencucian uang. Berdasarkan statistik, saat ini Amerika Serikat memiliki sekitar 45.000 mesin ATM cryptocurrency dari total sekitar 78.000 di seluruh dunia.
Data dari Federal Bureau of Investigation (FBI) menunjukkan bahwa antara Januari dan November 2025, Amerika Serikat menerima lebih dari 12.000 pengaduan penipuan terkait ATM cryptocurrency, meningkat sekitar sepertiga dibandingkan tahun sebelumnya. Para peneliti keamanan percaya bahwa kelompok penipu sedang menggunakan teknik rekayasa sosial untuk mengelabui korban agar secara aktif melakukan transfer dana di perangkat terminal, sehingga memfasilitasi pemindahan dana.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sekitar 86% dari kerugian tersebut berasal dari pengguna berusia di atas 60 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa lansia biasanya memiliki pemahaman yang terbatas tentang mekanisme operasional aset kripto dan lebih rentan terhadap penipuan melalui panggilan telepon atau penipuan dengan mengaku sebagai pejabat pemerintah. Selain itu, beberapa pengguna muda juga menjadi korban dalam apa yang disebut sebagai “penipuan cinta investasi”, yang dalam dunia kripto sering disebut sebagai “scam pig farming” (kuda betina).
Selain penipuan emosional, para penipu juga sering menggunakan metode seperti mengaku sebagai pejabat pemerintah, penipuan dukungan teknis, “penipuan kakek-nenek”, dan layanan pengembalian dana palsu. Kebanyakan dari penipuan ini bergantung pada manipulasi psikologis daripada celah teknis, dengan membangun hubungan kepercayaan agar korban melakukan transfer dana di perangkat ATM.
Lembaga riset CertiK lebih jauh menunjukkan bahwa alat kecerdasan buatan sedang secara signifikan meningkatkan efisiensi penipuan. AI mampu mengumpulkan informasi dari media sosial dan menghasilkan skrip penipuan yang sangat personal, bahkan melalui video deepfake atau suara yang meniru orang yang dikenal korban secara real-time, sehingga meningkatkan tingkat keberhasilan. Laporan memperkirakan bahwa keuntungan dari penipuan sosial engineering yang didukung AI bisa 4,5 kali lipat dari metode tradisional.
Sementara itu, pengawasan dari otoritas Amerika Serikat juga mulai memperhatikan risiko terkait. Senator Cynthia Lummis pernah menyatakan bahwa di masa depan, legislasi mengenai struktur pasar kripto harus mampu memberantas penipuan tanpa menghambat inovasi teknologi. Senator lain, Dick Durbin, mengusulkan RUU “Pencegahan Penipuan ATM Cryptocurrency” yang bertujuan menambah mekanisme perlindungan keamanan bagi pengguna yang memakai terminal otomatis cryptocurrency.